Proses Belajar (Harus) Berhubungan Erat Dengan Kehidupan Sehari-hari

Banyak orang ketika sudah selesai belajar tentang sesuatu tidak tahu untuk apa, apa gunanya  sesuatu itu dipelajari, sehingga ilmu yang mereka peroleh hanya sekadar dilewati — sebagaimana mata pelajaran yang harus kita tempuh selama ini. Saya adalah salah satunya yang dulu belajar mati-matian mengerjakan integral dan diferensial kini bahkan sudah lupa bagaimana simbolnya, apalagi bagaimana cara menghitungnya. Atau tentang beberapa rumus ikatan kimia yang setengah mati saya hafalkan di luar kepala, kini entah menguap kemana.

Image: SALAM
Image: SALAM

Kenapa begitu? Hal ini disebabkan karena proses belajar yang dilakukan tidaklah dekat, tak berkaitan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Jujur, bagi saya integral itu sangat abstrak, bahkan hingga kini. Bagi saya, hitungan matematika paling konkrit dan menarik saat itu hanyalah tentang harga diskon pakaian yang saya sukai. Saya tidak pernah menemui lambang-lambang integral atau diferensial di kantin sekolah, tempat nongkrong, pasar tradisional, atau pusat perbelanjaan—tempat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya belajar dan terus dipaksa belajar tanpa pernah memahami konsep, tanpa pernah menjumpainya secara riil, hingga pada akhirnya banyak sekali pelajaran hanya saya terima sebagai “pengetahuan” yang dihafalkan saja. Padahal ciri orang yang hanya sekedar menghafal adalah cepat lupa, sehingga bila pelajaran tersebut sudah lewat maka lupa pula apa yang telah “dipelajari”. Kalau saya ingat-ingat, biasanya “hafalan” tidak bertahan lebih dari 3 bulan, maka kemudian ketika ujian akhir dengan susah payah harus “belajar” lagi.

“Mendengar saya lupa,
melihat saya ingat,
melakukan saya paham,
menemukan sendiri saya kuasai” (Confucius)

Pelajaran yang terpisah dari pengalaman sehari-hari, hanya akan didengar, dan tentu saja akan membuat seseorang mudah lupa. Tetapi belajar sesuatu yang dapat kita lihat, apalagi sering dijumpai dalam hidup sehari-hari akan membuat kita ingat. Lebih-lebih ketika hal tersebut bisa dilakukan dan diaplikasikan sendiri, akan benar-benar membuat seorang pembelajar menjadi paham.

Ketika proses belajar berangkat dari peristiwa sehari-hari, yang dijumpai di lingkungan sekolah atau lingkungan rumah maka akan membantu seorang pembelajar dalam memahami konsep yang riil, tidak ngawang-awang. Selain itu dengan mengakrabkan diri belajar dari kehidupan sehari-hari, akan membuat pembelajar mengerti bagaimana mengaplikasikan apa yang telah dipelajarinya dan bagaimana menggunakannya untuk menghadapi permasalahan nyata di dalam kehidupan. Coba ingat, seberapa banyak pelajaran dari bangku sekolah yang akhirnya bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan permasalahan? Kalau boleh saya mencoba mewakili, tidak banyak, karena sebagian besar saya pelajari dengan ngawang-awang. SALAM dalam proses belajarnya selalu berangkat dari peristiwa yang dijumpai sehari-hari. Tentang belajar berhitung misalnya, di mana menjadi salah satu pelajaran utama di SALAM selain membaca dan menulis, SALAM tidak ujug-ujug mengajari anak untuk berhitung tanpa makna. Pasti dimulai dari peristiwa di sekitar mereka. Belajar berhitung bisa jadi dimulai ketika mereka berjalan-jalan dan bertemu segerombolan kambing, atau ketika mereka melihat bunga-bunga yang tumbuh di kebuh sekolah, bahkan bisa juga melalui beberapa potong pisang goreng di piring snack kelas. Pada akhirnya anak-anak tidak hanya belajar berhitung, bahkan sambil belajar membaca, menulis, ilmu alam, dan banyak lagi lainnya.

Proses belajar seharusnya membuat seseorang mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Lalu untuk apa pendidikan kalau hanya membuat anak didiknya tergagap-gagap menghadapi dunia nyata? Belajar dari peristiwa memberikan pemahaman lain bahwa belajar itu ada gunanya, bahwa belajar itu dapat membantu seseorang menyelesaikan masalah yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja ketika anak-anak belajar berhitung menggunakan uang. Apa yang mereka pelajari ini kelak dapat digunakan ketika mereka harus mengelola keuangan dan mengembangkan keuangan. Ketika mereka belajar ilmu alam tentang tumbuhan di sekitarnya, mereka bisa menggunakannya untuk belajar mengembangkan budidaya tanaman terkait dengan permasalahan ketahanan pangan yang sedang kita usahakan bersama. Begitupun ketika terbiasa belajar dari masalah lain yang dijumpai di sekelilingnya, pembelajar akan terdorong untuk menguasai suatu hal untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut.

Jadi kalau kurikulum nasional kita masih saja hanya mementingkan materi pelajaran yang telah ditentukan dari pusat, bersifat seragam, harus belajar hal yang tidak riil dihadapi dan ngawang-ngawang, jangan salahkan bahwa generasi yang terlahir kemudian gagap terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya, pun tidak mampu membaca potensi serta menyelesaikan permasalahan atau tantangan baik bagi dirinya maupun bagi banyak orang.