Blog

REFLEKSI SARASEHAN ANAK SALAM

“Apa Kabar, Bu? Pak?”
Ruang ini dihadirkan oleh anak secara online melalui zoom untuk mengakomodasi kehadiran orangtua, fasilitator, dan anak dari berbagai lokasi.
Oleh: Rachel Cahya Gunita


Dari pertemuan hari ini, kita banyak belajar bahwa keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak bukanlah hal yang sederhana. Ia bisa menjadi dorongan yang sangat berarti, tapi juga bisa menjadi tekanan jika tidak dilakukan dengan tepat. Cerita yang sudah dibagikan menunjukkan bahwa setiap anak punya pengalaman yang berbeda, dan dari situ kita bisa melihat bahwa yang paling penting bukan seberapa sering orang tua hadir, melainkan bagaimana kehadiran itu dirasakan.

Kita mendengar cerita Ruel yang tumbuh bersama ibunya yang sudah single parent. Meskipun ibunya sibuk bekerja dan sering bepergian ke luar kota, ia tetap berusaha mendampingi Ruel menjalani proses belajar, bahkan sampai mencarikan mentor agar Ruel bisa menjalankan risetnya dengan baik. Di tengah kesibukan, ibunya tetap menyempatkan diri untuk hadir mendampingi proses belajar Ruel, dan hal itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Ruel. Meski terkadang merasa lelah karena terus dikejar-kejar untuk menyelesaikan riset, Ruel sadar bahwa semua itu adalah bentuk perhatian. Kita belajar bahwa keterlibatan orang tua tidak selalu harus dalam bentuk fisik yang terus-menerus hadir, tapi bisa berupa usaha kecil yang konsisten dan tulus.

Ada Happy, yang kisahnya berbeda. Ia tidak tumbuh dengan keterlibatan orang tua kandung seperti Ruel. Tapi ia menemukan sosok “orang tua” dalam para fasilitator dan para orang tua dari anak yang ada di SALAM juga. Mereka yang terus menanyakan perkembangan risetnya seperti “ Sudah selesai belum risetnya”, itu memberi perhatian dan dorongan, hingga membuat Happy merasa bertanggung jawab atas risetnya. Bahkan saat ia mengalami momen terburuk,file film risetnya hilang sesaat sebelum presentasi, di saat itu juga ada Mas Aji salah satu fasil di SALAM yang duduk bersamanya, mendengarkan, dan membantu mencari jalan keluar. Meski kadang Happy merasa terpojok karena pertanyaan-pertanyaan yang sulit dari salah satu fasilitator, ia tahu bahwa itu bagian dari proses belajar yang membentuk dirinya menjadi lebih kuat mental dalam menyelesaikan masalah.

Lalu ada Rere, yang datang dengan hubungan yang sempat renggang dengan ibunya. Awalnya ia tidak nyaman saat harus mendaftar sekolah di SALAM bersama ibunya, bahkan harus tinggal satu kamar. Tapi SALAM justru jadi ruang yang secara tak langsung menjembatani hubungan itu kembali. Keputusan sang kakak untuk menyarankan Rere sekolah di SALAM bukan sekadar soal pendidikan alternatif, tapi juga usaha agar Rere bisa kembali membangun relasi yang sehat dengan ibunya. Dari ceritanya Rere, kita belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang pelajaran, tapi juga tentang proses memulihkan dan membangun ulang hubungan yang penting antara anak dan orang tua.

Dari tiga kisah ini, kita bisa menyimpulkan bahwa keterlibatan orang tua memang penting, dan keterlibatan orang tua juga tidak selalu berbentuk sempurna. tidak harus selalu menyenangkan. Yang terpenting adalah adanya upaya untuk hadir, untuk mendengar, dan untuk mendampingi proses tumbuh anak, baik secara langsung maupun lewat orang-orang yang mengambil peran itu. Karena ketika anak merasa diperhatikan dan didukung, mereka akan belajar bukan hanya soal pelajaran, tapi juga tentang hubungan, kepercayaan, dan tanggung jawab. Karena keterlibatan orang tua tetap menjadi fondasi yang penting dalam tumbuh kembang anak, bukan sekadar untuk akademis, tapi juga untuk kehidupan secara utuh.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *