Anak-anak haka berlarian dengan truk mainan di tangan. Melihat saya datang, mereka tersenyum malu-malu lalu berseru, “Mau ke mana, Bos?” Hanya karena helm putih di kepala saya. Di kebun, warna helm menentukan derajat: putih berarti pengawas, bukan pemanen. Dari permainan sederhana itu, dunia orang dewasa sudah merembes masuk, hingga cita-cita mereka pun seragam: ingin jadi polisi, biar menangkap pencuri sawit.
Pesawat Nam Air saya dari Jakarta mendarat mulus di Bandara H Asan, Sampit, pukul 07.35. Bandara ini hanya melayani tiga penerbangan setiap harinya yaitu dari Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Masing-masing hanya sekali penerbangan. Saya melakukan perjalanan ini untuk pendampingan tata kelola sampah di perkebunan sawit.
Dari bandara, perjalanan darat tiga jam menanti. Melewati kota Sampit, menyebrangi jembatan Sei Lenggana yang antri panjang karena sedang dalam perbaikan, jembatan ini adalah satu-satunya penghubung jalan darat. Kemudian mulai memasuki area perkebunan sawit. Gerbang pos keamanan dibukakan oleh satpam. Jalan tanah merah memanjang lurus, berdebu saat kering, licin saat hujan. Kontur jalannya becek dan berlubang, kendaraan berguncang tanpa henti. Rasa bosan berlipat ganda ditambah mual akibat mabuk perjalanan. Barisan pohon sawit yang rapih dan presisi justru menambah kejenuhan, seolah jalan tak pernah berpindah. “Kalau sudah masuk blok, rasanya kayak jalan di tempat kan, mbak?” kata Pak Sopir mengendarai mobil Triton abu-abu yang menjemput saya.
Tanah merah ini pula yang jadi alasan para sopir mencuci mobil setiap hari. Sekali antar-jemput tamu, sekali pula mobil harus dibersihkan, karena debu atau lumpurnya cepat menempel. Di kebun, tanah merah bukan hanya bagian dari lanskap, tapi juga bagian dari rutinitas harian haka, sebutan bagi karyawan atau orang-orang yang tinggal di sini.
Menyambut Hari Merdeka Bersama Orang Haka
Hari pertama saya tiba bertepatan dengan rangkaian acara menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Sore itu, lapangan terbuka ramai oleh lomba gimnastik antar divisi. Divisi berarti kompleks perumahan haka. Perempuan dari tiap divisi tampil bergantian di depan juri yang didatangkan dari kota Sampit. Gerakan mereka kompak meski tak ada guru. Semua mereka pelajari dari YouTube. Hujan yang turun tak membuat mereka bubar. Sementara para perempuan menari, para bapak sibuk nyawer. Uang ratusan ribu berpindah tangan. Satu peserta lomba gimnastik bisa membawa pulang Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.
Acara bubar pukul setengah lima sore. Para haka bergegas pulang. Saya heran mengapa mereka bergegas pulang dan lapangan langsung sepi seketika, sampai seorang ibu menjelaskan: listrik akan segera menyala pukul lima. Di kebun sawit, listrik bukan hak dasar, kabel listrik PLN tidak menjangkau area perkebunan ini, waktu akan ditentukan oleh genset. Di divisi estate atau area kompleks perkantoran, listrik menyala hampir 24 jam, hanya mati sebentar saat pergantian genset pukul 04.00 dan 17.00. Tetapi di mes pemanen, pemupuk, pengegrek, dan pelangsir listrik hanya hidup dua kali. Pukul 04.00 sampai pukul 06.00 dan 17.00 sampai pukul 22.00. Di luar jam itu, rumah tenggelam dalam gelap. Suara genset jadi jam biologis, tanda waktu untuk menanak nasi, mencuci, menyetrika, atau mengisi daya ponsel. Di kebun sawit, bahkan cahaya lampu di rumah pun bukan hak dasar, melainkan fasilitas yang datang dan pergi mengikuti bunyi genset. Rumah-rumah di kebun tak pernah sepenuhnya bebas mengatur ritme, selalu bergantung pada mesin yang menyala dan padam sesuai jadwal. “Kalau listrik nyala, semua pasti sibuk, apa lagi ibu-ibu. Yowis mbak, saya pulang dulu ya mbak mau nyalakan rice cooker.” kata Bu Marni.
Komunitas Pendatang
Di balik keriuhan lomba dan sorak-sorai arisan, ada denyut lain yang lebih muram: persoalan tanah. Kabar konflik lahan selalu membayang, bahkan saat haka sedang menari atau berkaraoke. Hampir sering, kabar perselisihan terdengar, antara batas administratif perusahaan dan batas ingatan kolektif warga lokal atas tanah mereka.
Seorang rekan di lapangan yang juga karyawan perusahaan sawit bercerita, minggu lalu warga lokal datang mematok blok-blok sawit, memasang kain putih mengelilingi blok-blok itu, lalu sebuah banner bertuliskan “TANAH HUTAN KAMI” bertengger di plang batas wilayah perusahaan. Rekan saya mengambil sebungkus rokok dari saku seragamnya, lalu mulai menyulutnya.
“Dulu waktu kecil mungkin mereka suka main di kebun, waktu kakek neneknya jual lahan ke perusahaan kan mereka masih kecil, jadi mereka gak tahu. Pas dewasa, kembali lagi kesini ingatannya mungkin pernah main di sini.”
Setelah menghembuskan asap kreteknya ke udara ia melanjutkan ceritanya:
“Ya, selama mediasi berlangsung, gak akan ada karyawan yang boleh atau bahkan berani lewat area yang dipatok, mbak. Konflik kayak gini, ini, kan nyaris jadi latar kehidupan kita di kebun. Nggak selalu meledak besar, tapi juga, ya, gak pernah selesai-selesai, lah.”
Saya ditarik kembali oleh Pak Sopir, hampir jam empat sore. Saya harus bergegas kembali ke mes tamu di divisi estate, tempat saya bermalam. Saat berjalan menuju mobil, suasana berbeda muncul. Saya menemukan ibu-ibu tengah menggelar arisan. Suara riuh gembira ketika satu nama disebut. Di dekat mereka, anak-anak haka bermain dengan truk dan mobil-mobilan. Mereka menyapa saya malu-malu, “Mau kemana, Bos?” sambil berbinar karena melihat saya menggunakan helm proyek putih, yang bagi mereka identik dengan “bos” atau orang yang punya jabatan tinggi di kebun. Helm proyek putih selain bagian dari atribut keselamatan kerja juga menandakan posisi staf atau pengawas, berbeda dengan helm warna lain yang biasanya dipakai buruh atau teknisi. Dunia orang dewasa, struktur dan jabatan sudah merembes ke permainan anak. Saat ditanya cita-cita, banyak anak menjawab ingin jadi tentara atau polisi, “Saya cita-citanya jadi polisi, biar nangkep pencuri sawit.”
Bertanam Atau Makan Mie
Jika konflik lahan menyangkut hak atas tanah tempat rumah mereka berdiri, urusan dapur sehari-hari tak kalah genting: soal makan keluarga. Dari sinilah cerita para istri haka dimulai. Saya bertemu dengan istri-istri haka. Dari mereka saya mendengar tentang PERISKA, perkumpulan istri karyawan, perempuan-perempuan yang mengisi waktu dengan berkebun. Tomat, cabai, kangkung mereka tanam di sela-sela sawit. Inisiatif itu muncul dari kebutuhan sehari-hari karena tukang sayur hanya datang sekali dalam seminggu. Kalau terlewat membeli, keluarga harus bertahan dengan mie instan. “Kalau kelewat, ya seminggu makan mie lagi, mbak!” kata seorang ibu sedikit berteriak.
Namun, hasil kebun mereka sendiri juga tidak sepenuhnya aman. Secara teknis, tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi karena tanah kebun sarat pupuk dan pestisida sawit. Tapi kebutuhan mengalahkannya. “Tomatnya, sih, tumbuh. Cabai juga tumbuh, tapi harus dipupuk banyak-banyak. Nggak ada pilihan, mau gimana lagi, ya tetap dimakan aja, mbak.” ujar seorang anggota PERISKA, sambil menebar pupuk sawit ke kebun sayur.
Ritme Hidup di Kebun Sawit
Seperti sayur yang tumbuh seadanya di tanah pupuk sawit, kehidupan lain pun dijalani ala kadarnya: sinyal, hiburan, hingga urusan sampah. Saat saya berjalan ke divisi lain. Dari jauh, tampak tiang tegak seperti pengerek bendera. Ternyata bukan bendera yang dikibarkan, melainkan modem Wi-Fi dalam ember kecil yang diikat di ujung tiang. Dengan cara itu, sinyal bisa ditangkap setidaknya satu batang. “Harus begini, kalau mau WA orang di kampung, mbak,” kata Pak Suradi. Sebagian haka malah punya tiga ponsel: satu khusus tethering, satu untuk dipakai harian, satu lagi sebagai cadangan ketika baterai habis.
Di daerah yang lebih pelosok, yang oleh haka disebut divisi Hipbone, saya mendengar suara musik keras di siang hari. Padahal listrik seharusnya belum menyala. Ternyata warga di sana patungan membeli genset dan bensin hanya untuk menyalakan sound system besar, setara sound system acara hari kemerdekaan. “Biar ada hiburan,” kata seorang bapak sambil memegang mic. Musik funkot berdentum keras di antara sawit, warga berkaraoke, jadi tanda bahwa meski terisolasi, mereka bisa menciptakan dunia kecilnya sendiri.
Perjalanan berikutnya membawa saya lebih dalam ke area kebun. Di sana saya menemukan lubang-lubang besar penuh sampah. Totalnya 49 lubang sampah di area 2000 hektar sawit sejak 2022. Lubang sampah ini menampung sisa rumah tangga: plastik, popok, botol, sisa dapur. Setiap rumah mengeluarkan sampahnya ke bak penampung, lalu dump truck perusahaan mengangkutnya ke lubang-lubang besar di tengah kebun. Dengan begitu, pengelolaan sampah rumah tangga berakhir di tanah merah, ditimbun begitu saja, tanpa pemilahan atau pengolahan lebih lanjut. Beberapa haka memilih membakar sampahnya di area mes.
Di dekat salah satu lubang itu, saya bertemu pelangsir, pengangkut sawit ke dump truck. Kami mengobrol sebentar soal kerjaannya. Berat satu tandan sawit, katanya, bisa mencapai 40 kilogram. “Sekali panen bisa dua ratus tandan, itu satu dete (dump truck) muat delapan ton, mbak.” tambahnya. Dari obrolan soal berat sawit, percakapan merembet ke hal lain. Ia bercerita dengan suara rendah tentang seorang tetangga yang memilih mengakhiri hidupnya. Tekanan kerja berat, hiburan minim, ditambah rasa terasing. Rumah kecil di tengah sawit kadang lebih terasa sebagai penjara ketimbang tempat pulang. Di kebun, kabar bunuh diri beredar pelan, hampir berbisik.
Menanam Harapan
Namun, di tengah cerita tentang rumah yang berubah menjadi penjara, ada juga kisah orang tua yang justru menjadikannya benteng terakhir: tempat menanam harapan untuk anak-anak.
Saya bertemu Pak Imam. Ia sudah tinggal di kebun sawit sejak 2007, pindah mes sebanyak tiga kali. Pertama saat jadi satpam di divisi umum, lalu pindah ke divisi 3 ketika jadi operator genset. Rumah atau mes keduanya membuat ia hampir menyerah, atap bocor, penuh semut merah Kalimantan atau biasa haka sebut semut PKI. Saat itu anaknya baru berusia dua bulan. “Saya udah mau nyerah waktu itu,” kenangnya. “Tiap malam sama istri jaga-jaga, takutnya kan si bayi digigit semut PKI. Pas hujan, mbak, atap pasti bocor, jadi air hujan masuk.” Setelah proses administrasi panjang, ia akhirnya pindah ke rumah yang lebih layak. “Investasi saya di anak, mbak. Saya gak mau lah menetap di sini” ujarnya. “Saya sedih kalau lihat anak di sini banyak yang putus sekolah sampai SMP, malah ada yang (putus sekolah) SD kayak si Ropik. Jadi, saya tetap di sini cari uang buat biayai sampai anak lulus SMA, terus pindah ke Jawa supaya anak tahu ada yang namanya sekolah kampus.”
Sepanjang hari dan perjalanan, saya tidak pernah ditinggal Pak Sopir karena perusahaan tidak mau saya tersesat. Pak Sopir tidak banyak bercerita, dari jalan tanah merah sampai pelosok divisi hanya diam. Saya mencoba memecahkan keheningan, menanyakan hal yang sama seperti ke Pak Imam: bagaimana perasaannya tentang rumah. Ia menjawabnya singkat.
“Ya betah, mbak. Kerjaan nggak perlu nyari. Kalau di Jawa kan masih perlu nyari. Harus punya banyak modal. Kalau di sini kan modal mau bekerja saja. Mau berangkat kerja ya dapat duit.”
Tidak lama ia menambahkan dengan suara lebih pelan:
“Pengennya tetap di Jawa sih. Di sini betah, tapi tetap nggak ada rasa ingin menetap. Tetap pingin tuanya di tempat kelahiran gitu.”
Hari berlalu sangat lambat, hingga saya sampai di penghujung malam terakhir. Saya bergabung dengan kelompok bapak-bapak yang sedang berkaraoke. Hendak pamitan. Mereka suguhkan segelas kopi untuk saya. Kami bernyanyi menghabiskan malam minggu. Saat jam memasuki pukul 22.00, listrik mati, karaoke berhenti, berganti jadi perbincangan keluh kesah mereka hari ini. Buat mereka rumah bukan rumah menetap. Ketika sudah tidak bekerja lagi di perusahaan, otomatis haka sudah tidak mempunyai rumah lagi. Rumah di perkebunan adalah jaminan hidup langsung, tempat tinggal gratis, dekat dengan pekerjaan, sudah terhubung dengan komunitas, dan rasa aman secara logistik.
Rumah di Tengah Barisan Sawit
Begitu keluar dari pekerjaan, mereka bukan hanya kehilangan gaji. Mereka juga kehilangan rumah, serta seluruh jaringan sosial yang selama ini menopang hidup di kebun. Pertemanan, gotong royong, arisan, hingga obrolan ringan di teras mes, semua lenyap begitu kontrak kerja berakhir.
Rumah di kebun bukan hanya bangunan, tetapi simpul yang mengikat kerja, keluarga, dan rasa aman sekaligus. Ia bisa menjadi pelindung dari hujan, namun juga jeruji yang menahan langkah. Saat hendak menutup mata malam itu, ponsel saya berdering. Sebuah pesan masuk dari kota Sampit:
“Besok nggak bisa pulang! Jembatan Sei Lenggana roboh.”
Siswi SMA Ekperimental SALAM
Leave a Reply