Anda sedang jengah membaca kabar buruk setiap hari? Merasa tidak berdaya dan terus menerus merasa tertipu sebagai warga di negara yang salah urus? Pesimis dan lelah psikologis? Jika iya, akhir pekan ini sempatkanlah sejenak berkunjung ke Suryodiningratan. Tepatnya di Galeri Seni Prof. But Muchtar, Pascasarjana ISI Yogyakarta, sedang berlangsung pameran gambar dan fotografi dari kelas minat Sanggar Anak Alam (SALAM) bertajuk “Sampah Kita Cerita Kita”.
Begitu memasuki galeri, Anda akan disajikan dengan puluhan karya gambar dan fotografi yang tertata dalam beberapa kelompok display. Sajian karya yang sebagian berukuran A4, membuat Anda harus berjalan mendekat agar dapat mengamati dengan lebih jeli goresan-goresan anak-anak SALAM. Dan sesaat setelah perhatian Anda tertuju pada mereka, seketika hati akan terasa hangat.

Meski mengusung tema lingkungan, namun pengunjung tidak akan merasakan ‘keseragaman’ dalam karya-karya yang tersaji. Di panel display yang sama, saya menemukan sebuah goresan abstrak yang kemudian direspon dengan arsir pada beberapa kurva yang terbentuk, namun ada juga karya yang sangat ‘lantang’ berbicara tentang krisis iklim dalam goresan spidol dan pensil warna. Di panel yang lain, tersaji tiga karya berukuran besar yang merupakan karya kolaborasi. Kata Bu Widya, salah satu orang tua murid yang aktif terlibat sebagai panitia pameran, spot ini menjdi favorit untuk foto-foto.
Ketika menyusuri panel yang berisi karya foto, kesan yang sama juga tertangkap. Sesekali, kita akan diingatkan tentang kondisi darurat sampah yang sedang marak di Jogja. Namun, tak sedikit karya yang menyoroti dalam jarak dekat: rumput liar, ekspresi manusia, dan hal-hal biasa yang sering luput dari mata kita.
Karya gambar dan fotografi yang tersaji pada pameran “Sampah Kita Cerita Kita” adalah hasil dari kelas minat menggambar dan kelas minat fotografi yang berlangsung rutin di SALAM. Untuk karya gambar, kurasi dilakukan dari karya yang terkumpul selama dua semester terakhir dari 64 siswa, dari kelas Kelompok Bermain (KB) hingga SMP. Sementara untuk karya fotografi, kurasi dilakukan dari karya kelas minat fotografi yang diikuti siswa dari beragam kelas, mulai kelas 2 SD hingga kelas 12 SMA, selama 1 semester terakhir. “Rata-rata anak memiliki 30-70 karya foto. Dari karya tersebut, diambil 3 karya terbaik dan mewakili tema pameran,” jelas Pak Bima, fasilitator pengampu kelas fotografi.
Menurut Bu Mia, fasilitator pengampu kelas minat menggambar, kurasi karya gambar dilakukan bersama Pak Bima dan beberapa mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta. “Total karya yang ditampilkan pada pameran kali ini adalah 98 karya kertas, 35 karya kanvas, 3 karya kolaborasi di atas kanvas, 59 karya fotografi, 1 karya fotografi fasilitator, 1 karya kertas fasilitator, 5 karya kanvas fasilitator, dan 5 karya lukisan hasil riset mandiri (Sophia),” kata Bu Mia.

Pameran ini berlangsung dengan dukungan penuh dari PKBM SALAM dan Forum Orang Tua SALAM (FORSALAM). Pameran juga tidak berlangsung ‘melompong’, karena setiap hari selama pameran dibuka, juga berlangsung berbagai workshop dan diskusi dengan tema yang tak jauh dari gaya hidup minim sampah. Padatnya acara membuat lokasi pameran tidak sulit untuk ditemukan, karena sepanjang pameran berlangsung, SALAM seperti boyongan pindah ke Pascasarjana ISI. Orang tua dan anak-anak SALAM bertebaran di sana, sampai ke kantin-kantinnya.
Masih ada dua hari tersisa untuk menikmati karya-karya ini karena pameran akan dibuka hingga 19 April 2025. Silahkan mampir. Tidak hanya sebagai bentuk apresiasi, namun juga sebuah usaha untuk kesehatan mental. Karena hiruk pikuk yang berlangsung di dalam kepala, seketika redam. Goresan dan bidikan tangan-tangan kecil itu seketika mengingatkan bahwa ternyata kita masih punya harapan untuk masa depan yang lebih baik. (*)
Orang Tua Murid & Fasilitator SMA SALAM
Leave a Reply