Sebuah Usaha Mengganti Mur Berkarat

Menjelang Hari Ulang Tahun SALAM ke 21, terbit buku mungil hasil dari kumpulan tulisan anak-anak siswa SMA eksperimental SALAM, judulnya “Sekolah Menengah Suka-suka” yang disunting oleh Ubaidilah Fatawi (Fasilitator SALAM).Ada dua kontributor yang ikut meramaikan buku ini, yakni  Fawaz (Relawan SOKOLA Institut) Menulis epilog khusus memotret para alumni SALAM Generasi Pertama di Lawen – Banjarnegara dan Agus Mulyadi (Redaktur MOJOK.co) menulis pengantar yang kini tengah Anda baca.

Pengantar Buku “Sekolah Menengah Suka-Suka” SALAM books

Ada sebuah kekhawatiran yang meletup-letup ketika saya harus menerima kenyataan bahwa pendidikan saya ternyata hanya mentok sampai SMA. Itu pun ijazah aslinya sampai sekarang belum saya ambil dari sekolah karena saya masih punya tanggungan. Itu artinya, ijazah tertinggi yang saya punya adalah ijazah SMP.

Di kemudian hari, waktu membuktikan bahwa kekhawatiran saya ternyata terlalu berlebihan. Di dunia digital seperti sekarang ini, peran ijazah ternyata semakin tiada relevan. Setidaknya, saya membuktikannya sendiri. Dari semua pekerjaan yang pernah saya geluti, tak ada satu pun yang menggunakan ijazah.

Satu-satunya modal utama (selain kesalehan, tentu saja) yang saya andalkan untuk bisa bekerja dan bertahan hidup adalah skill menulis. Skill itu pula yang kelak saya andalkan untuk bisa mencari follower, pacar, bahkan istri.

Seorang bijak pernah mengatakan, “Kalau kau ingin ijazah, sekolah. Kalau kau ingin pintar, belajar.” Tentu saja sukar bagi saya untuk tak setuju.

Pengalaman mengarungi kehidupan tanpa ijazah-lah yang memang kemudian semakin menyadarkan saya bahwa sekolah formal itu penting namun tak sepenting itu. Ia hanyalah mur kecil dari sebuah sistem pendidikan. Dan selayaknya mur, ia bisa dengan mudah diganti dengan mur-mur lain yang lebih bagus dan lebih mantap ulirannya.

Selama ini, tak bisa dimungkiri, pendidikan memang hampir selalu diucapkan satu tarikan napas dengan sekolah formal beserta segenap kurikulumnya. Ia sudah kadung mapan sebagai sebuah sistem. Tak heran jika kemudian ia dijadikan sebagai standar kelaziman, bahkan kesuksesan.

Akan dianggap sebagai bapak dan ibu yang bermutu kalau mereka bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah dengan akreditasi terbaik, apalagi kalau guru-gurunya lulusan luar negeri, apalagi kalau makanan yang dijual di kantinnya sehat dan penuh keju. Apalagi kalau seragamnya fashionable.

Akan dianggap berhasil seorang bapak dan ibu ketika anaknya bisa mendapatkan nilai rapor yang di atas sembilan melulu. Apalagi kalau disertai dengan peringkat satu.

Jarang sekali yang menganggap seorang bapak dan ibu berhasil saat anaknya bisa mengembangkan minat dan bakatnya.

Kelak, dunia yang semakin dinamis seperti sekarang ini toh memberikan banyak pilihan. Tak sedikit konsep-konsep pendidikan baru yang pada akhirnya terbukti jauh lebih efektif mengantarkan para anak didiknya menuju jalan kesuksesan dan jalan kebahagian.

Nah, buku yang sedang Anda baca ini merangkum banyak kisah tentang tentang kesuksesan konsep pendidikan baru bernama Salam. Sanggar Anak Alam.

Sebagai sebuah konsep pendidikan yang baru, Salam mencoba untuk “menantang” konsep pendidikan yang sudah lebih dulu mapan. Ia menawarkan hal-hal segar yang yang layak dilirik untuk dijadikan sebagai mur kecil baru yang berkilau dan siap menggantikan mur yang lama yang tampaknya sudah mulai aus.

Salam hadir dengan segala keistimewaannya. Ia tampil menjadi sekolah yang tanpa guru, sekolah yang jarang mencatat materi pelajaran, sekolah yang lebih banyak berkutat pada riset dan pengembangan skill, sekolah yang mengajarkan siswa-siswanya untuk mengeksplorasi habis-habisan lingkungan hidup mereka.

Saya pikir kita semua sepakat bahwa sesuatu yang bagus dan teruji selalu muncul melalui mekanisme tantang-menantang.

Buku ini adalah bukti bahwa tantangan itu bekerja sebagaimana mestinya dan mampu melahirkan hasil pendidikan yang bukan hanya baik, namun juga menyenangkan.