Sekolah di Rumah

Karena pandemi corona, UN ditiadakan. Bagi sebagian besar orang, hal ini melegakan. Namun bagaimana nanti praktik pada aras pelaksana, tentu akan menarik untuk diamati. Bagi saya pribadi, pandemi ini menjadi sebuah ruang refleksi yang sangat luas. Begitu beberapa pemerintah daerah menyatakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dialihkan di rumah sebagai upaya pencegahan penyebaran virus, banyak sekali kebingungan yang muncul di masyarakat. Kebingungan-kebingungan itu rata-rata mengerucut pada sebuah keluhan para orang tua murid, “Duh, PR-nya banyak banget.”

Tak sedikit orang tua yang terbebani dengan tugas-tugas harian anak-anaknya. Belum lagi jika salah satu, atau bahkan kedua orang tua juga masih harus bekerja di bidang-bidang pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan di rumah. Peristiwa ini menjelaskan bahwa sistem pendidikan dasar/ menengah di negeri kita tidak fleksibel. Sistem belajar konvensional di mana tatap muka harian masih diperlukan, pengumpulan tugas fisik juga masih disyaratkan, kalang kabut ketika harus beralih cepat menjadi kelas-kelas online.

Lalu bagaimana di Sanggar Anak Alam (SALAM)? Sejak memutuskan untuk memindah kegiatan belajar di rumah, tidak banyak kesulitan berarti. Begitu pihak pengelola PKBM mengumumkan bahwa kegiatan belajar untuk sementara waktu dilakukan di rumah, masing-masing grup whatsapp kelas berkoordinasi. Grup ini anggotanya beragam, tergantung usia anak. Pada jenjang SD kecil di mana anak belum memiliki hp, maka anggota grup hanya orang tua dan fasilitator saja. Pada jenjang yang lebih tinggi fasilitator dapat langsung berkoordinasi dengan anak.

Di kelas anak saya, kelas 1 SD, grup whatsapp berisi orang tua dan fasilitator. Di antara grup lain, bagi saya grup ini adalah grup yang paling sehat dan membahagiakan. Setiap hari ada saja sesama orang tua murid yang membagi foto-foto kegiatan anak selama di rumah. Jurnal harian buatan anak-anak juga sering menginspirasi anak lain untuk mencoba kegiatan yang sama.

Kebetulan tema belajar semester ini adalah ‘makanan pokok pengganti nasi’. Beberapa ide menu muncul dari kegiatan memasak di rumah tiap anak. Setiap malam sebelum tidur, anak saya juga kerap meminta saya menunjukkan kegiatan teman-temannya yang dibagikan di grup. 

Tak hanya tentang kegiatan anak, grup ini juga menjadi ajang orang tua berkeluh kesah saat anak-anaknya mulai menunjukkan tanda-tanda kangen. Kangen teman, kangen fasilitator, kangen sekolah. Untuk melepas kangen, beberapa kali anak saya melakukan video call bersama teman-temannya.

Sementara di jenjang SMA, jenjang yang saya fasilitasi, perbincangan di grup kelas yang beranggotakan anak kelas 10-12 SMA dan fasilitator adalah seputar sejauh mana pemahaman anak tentang covid-19, apa saja yang sudah dilakukan, dan bagaimana melanjutkan program belajar bersama yang sempat tertunda.

Terkait perkembangan riset masing-masing anak, fasilitator sepakat untuk memantau lewat grup mentoring. Grup ini dibuat oleh masing-masing fasilitator dan beranggotakan satu fasilitator dan 3-4 anak yang ia mentori. Tujuan membuat grup-grup kecil ini untuk memudahkan proses dokumentasi riset, agar perbincangan seputar riset tidak bertumpuk dengan tema perbincangan yang lebih umum.

Dalam pengalaman saya, grup ini cukup efektif. Setiap ada perkembangan maupun hambatan seputar riset, setiap anak bisa melaporkannya di grup kapan pun, dan saya menjanjikan respon cepat di jam tertentu. Salah satu anak dalam grup mentoring saya, Gracia, bercerita bahwa dia mulai menikmati proses belajar di rumah. Saya pribadi juga merasakan hal yang sama.

Tanpa perlu bergegas di pagi hari agar tidak terlambat, tidak perlu berkendara pergi-pulang, tidak perlu memikirkan rambut lepek yang harus segera keramas. Sekolah dan bekerja di rumah ternyata tetap bisa produktif dan menyenangkan.

Salah satu hal yang tetap kami pertahankan adalah rutinitas. Setiap pagi kami sekeluarga mandi dan sarapan pada jam yang sama seperti saat harus berangkat sekolah. Sementara sinar matahari yang biasanya kami dapat saat berkendara kini diusahakan dengan berjemur di halaman. Begitu juga dengan jam makan siang. Kami berusaha makan di jam yang sama seperti jam makan siang sekolah.

Sesuai dengan tema riset kelas seputar pangan, saya mengajak anak untuk terlibat menyiapkan makan siang. Sesekali karbohidrat kami ganti dengan kentang atau ketela. Kegiatan ini kami sepakati sebagai ‘sesi 2’ seusai jam istirahat. Karena mempertahankan rutinitas sekolah, maka di hari Sabtu dan Minggu, sekolah di rumah juga libur.

Tentu saja kendala terbesar, baik bagi saya, anak saya maupun kebanyakan orang, adalah kelekatan terhadap gadget. Entah untuk sekedar bermain game maupun untuk meng-update berita. Untuk itu saya berusaha untuk lebih produktif walaupun masih sekedar dengan membaca buku atau sedikit menulis.

Kita tidak pernah tahu, sampai kapan pandemi ini akan berakhir dan kehidupan dapat berjalan ‘wajar’ seperti dua minggu yang lalu. Namun bagaimana pun pandemi ini jelas membawa banyak perspektif baru tentang cara hidup manusia selama ini. Toko-toko, pasar, dan pusat perbelanjaan bisa jadi bergeser menjadi pusat-pusat perbelanjaan virtual. Sekolah dan kampus bisa jadi tak lagi memerlukan gedung-gedung tinggi nan megah. Perjumpaan sosial tidak melulu harus dalam sebuah tempat yang sama.

Pandemi inilah yang menjadi ruang refleksi, terutama tentang makna pendidikan sesungguhnya. Bahwa apabila dalam paradigma dan metodenya benar, maka sekolah sejatinya bisa berlangsung di mana saja. Tidak perlu gedandapan membuat dan mengunduh aplikasi, cukup memanfaatkan aplikasi yang sudah ada. Tidak perlu daftar panjang penugasan yang membuat kewalahan, cukup peran orang tua yang mau memahami minat anak. []