Selamat Datang Semester Baru SALAM

Gernatatiti telah menurunkan tulisan terlebih dahulu tentang berbagai ritual sebagai media untuk pembiasaan bagi Warga SALAM—terkait dengan membangun kesepakatan, kerja-kerja kolektif, tentang makanan sehat, tentang sampah, home visit dan aktivitas lainnya yang harus diikuti Orang Tua Siswa SALAM. Berikut ini dilanjutkan oleh tulisan Karunianingtyas Rejeki (Red)

Tukar Pengalaman Berlangsung. Foto: Anang Istiawan

Sebelum liburan tiba, seluruh Fasilitator Sanggar Anak Alam (SALAM), selama tiga hari mengadakan refleksi terkait dengan berbagai hal yang telah dilalui untuk menjadi catatan, bahan bagi perencanaan mendatang—Workshop Fasilitator begitu kami menyebutnya, merupakan agenda rutin enam bulanan untuk mempersiapkan semester baru—Peristiwa ini semacam Kawah Candradimuka Fasilitator SALAM. Acara yang berlangsung pada tanggal 4-6 Juni 2018 ini hukumnya wajib bagi fasilitator SALAM karena di dalamnya ada pendalaman, menggali gagasan, menyamakan paradigma pendidikan yang dianut, serta mengembangkan metodologi untuk semester yang akan datang. Selama 3 hari difasilitasi oleh Toto Rahardjo dengan cara berdiskusi dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.

Refleksi

SALAM itu tempatnya belajar semua orang, termasuk juga untuk fasilitator. Pada akhir semester, refleksi menjadi penting untuk melihat kembali perjalanan belajar diri sendiri, “Sampai di manakah proses belajarku setelah enam bulan ini?” Proses belajar untuk bertanggung jawab, menjalani kesepakatan bersama, memiliki kepekaan serta kemampuan mengolah peristiwa menjadi sumber belajar bersama, persoalan team work, pendokumentasian proses, hingga membangun relasi dan membangun relasi dengan orangtua siswa dalam proses sepanjang perjalanan belajar.

Refleksi diri maupun bersama menjadi pengingat bahwa Fasilitator SALAM bukanlah pusat pengetahuan dalam proses belajar—apalagi semacam malaikat ataupun dewa, sama sekali bukan dan harus dibuang jauh-jauh. Tentu saja masih punya banyak (sekali) kekurangan yang kemudian mau tak mau kalau ingin maju harus jadi bahan belajar bersama. Apa yang salah, apa yang kurang, apa yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan bersama-sama dari segala pihak untuk semester mendatang.

Mengapa perlu segala pihak? Karena kekuatan proses belajar di SALAM terjadi ketika ada kesepahaman mengenai cara pandang & metodologi antara fasilitator, anak/siswa dan orangtua siswa. Bila terjadi ketidaksesuaian di antara 3 unsur tadi, maka akan terjadi masalah sosial di komunitas SALAM. Bahwa kesepahaman tidak selalu terjadi, itu tak bisa diingkari. Dalam perjalanannya ketidaksesuaian antara 3 unsur bergantian muncul dengan dinamikanya sendiri.

 Gagasan: Penerimaan Siswa  Orangtua Baru?

Orangtua siswa dan fasilitator SALAM memang tidak seperti orangtua murid dan guru pada umumnya, kebanyakan. Namun senyatanya persoalan-persoalan yang hadir sehari-hari adalah persoalan yang umum-umum saja, sama seperti di tempat lain.

Sepanjang perjalanan belajar saya selama 18 bulan, ternyata belum semua orangtua juga fasilitator memahami sepenuhnya visi SALAM yang harus diperjuangkan bersama. Hal itu tampak dari adanya orangtua SALAM yang masih bersikap seperti pada umumnya orangtua di sekolah lain yang tidak mau tahu, pasrah bongkokan, menyerahkan (pendidikan) anak sepenuhnya kepada sekolah—Indikator lain yang saya tangkap adalah bahwa belum seluruh orangtua SALAM sungguh-sungguh menaruh perhatian pada perkembangan anaknya. Bahwa tidak semua orangtua yang menyekolahkan anaknya di SALAM benar-benar memahami dan menerapkan “pendidikan yang memerdekakan” bagi anaknya. Ada yang justru masih “memenjarakan” atau sebaliknya bukan memerdekakan melainkan melakukan pembiaran.

Daripada dievaluasi oleh orang lain lebih baik secara jujur kita evaluasi sendiri. Foto Anang Istiawan

Meskipun sistem penerimaan murid baru di SALAM 90% adalah wawancara menyoal orangtua, tapi nyatanya bisa “kecolongan” juga. Di tengah perjalanan baru terlihat bahwa ada saja yang meleset atau tidak taat pada apa yang telah disepakati bersama. Sehingga nampaknya ke depan, istilah Penerimaan Siswa Baru harus kami ganti dengan Penerimaan Orangtua Baru. Rasanya term ini yang lebih tepat digunakan dan menggambarkan SALAM. Dari evaluasi ini SALAM akan mengubah secara fundamental proses penerimaan warga baru—agar dapat lebih selektif lagi untuk memilih para orangtua yang akan “bersekolah” di SALAM.

Tahun ini SALAM ingin meningkatkan komunikasi serta memperkuat relasi dengan orangtua sebagai salah satu pilar dalam pendidikan keluarga. Maka ketidaksesuaian yang (masih) terjadi sekarang mau tak mau harus dijembatani. Visi, misi, juga kesepakatan-kesepakatan mengenai proses belajar di SALAM harus dijelaskan di awal dengan rinci. Harus ada orangtua-orangtua yang menjadi penggerak diantara forum itu sendiri. Mengapa? Karena dalam langkah membangun kesepahaman dan kesepakatan, orang akan lebih mudah menerima informasi yang disampaikan apabila mereka merasa sejajar, apabila orang yang menyampaikan dianggap bagian dari mereka. Melalui penggerak inilah diharapkan kesepakatan bisa terus dijaga. Penggerak diharapkan menularkan pemahaman dan kemampuan melakukan interaksi yang sudah disepakati. Tidak melulu dalam forum resmi, tetapi dari obrolan ringan – mungkin sambil minum kopi.

Kesepakatan Berjenjang

Persoalan melanggar kesepakatan tidak hanya terjadi di area orangtua, tetapi termasuk juga anak, bahkan fasilitator. “Salahnya tidak ada aturan, hadiah, dan hukuman, sih di sana!” Kalimat itu yang sering saya dengar dari mereka yang sering berkomentar tentang disiplin di SALAM. Tidak hanya orang-orang di luar SALAM, tetapi lucunya kadang kala kalimat itu muncul dari warga SALAM sendiri.

Swadisiplin, begitu SALAM menyebutnya. Itulah alasannya mengapa SALAM tidak menggunakan hadiah dan hukuman sebagai alat penegak disiplin. Sebaliknya dengan berjuang pelan-pelan menumbuhkan disiplin dari dalam diri, bukan karena faktor luar—takut dihukum atau senang sogokan. Dan swadisiplin ini ditumbuhkan dari kesepakatan, aturan yang dibuat bersama-sama, melibatkan dan membuat setiap pihak berdaya.

Diakui, menumbuhkan swadisiplin tidaklah mudah. Seringkali tergoda untuk melirik lagi penegakan disiplin dengan hukuman dan hadiah. Setiap Jumat – saat kumpul fasilitator – selalu ada cerita-cerita soal pelangaran kesepakatan. Dalam workshop kemarin tentu saja persoalan ini menjadi hal yang hangat diperbincangkan. Pelanggaran akan kesepakatan memang hal yang tak dapat dihindari, tetapi apabila terjadinya berulang kali maka mungkin kesepakatan ini perlu ditinjau lagi melalui proses refleksi. Pak Toto yang hari itu membimbing kami menyimpulkan bahwa kesepakatan harus dibuat berjenjang—semakin tinggi tingkatan kelas atau usia, kesepakatan justru harus dibuat lebih detail dan lebih rinci berikut konsekuensinya.

Metode atau Paradigma?

Banyak yang mengira SALAM adalah sekolah alam, sekolah yang berorientasi terutama pada metode belajar menyenangkan yang lebih banyak diselenggarakan di ruang terbuka. Di tingkat fasilitator, jujur saja kami masih perlu diingatkan bahwa SALAM bukanlah sekolah alam yang pada umumnya asyiek, lebih banyak berkutat dan gembar-gembor diurusan metode—bahkan lebih sering bermain ditataran sub dari metoda, yakni; teknik-teknik belajar mengajar saja. Lebih dari itu, SALAM menaruh perhatian penting pada dunia cara berfikir (paradigma), antara lain dengan cara menghadirkan ekosistem belajar yang disangga oleh Orangtua, siswa dan fasilitator.

Pergeseran paradigma yang mendasar yakni bagaimana tumbuh berkembang dorongan dari dalam diri warga belajar untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap berbagai hal sesuai dengan kebutuhannya, terkait dengan realitas kehidupan, itulah proses belajar yang sesungguhnya. Kesalahan paradigma pendidikan saat ini yang diperbesar justru “mencekoki” pengetahuan saja, lupa menyambungkan, mengkaitkan dengan realitas.

Dengan pergeseran paradigma tersebut, metode bukan lagi menjadi hal yang didewa-dewakan. Yang paling penting berdasar pada pemahaman bahwa siswa adalah subyek atau pusat belajar pada pengalaman dirinya. Atau selaras dengan adagium yang diyakini SALAM, “Mendengar, saya lupa; Melihat, saya ingat; Melakukan, saya paham; Menemukan sendiri, saya kuasai”

Riset (Dengan Tema Strategis) Sebagai Alat Belajar

Dengan paradigma belajar yang telah bergeser SALAM merumuskan kerangka belajar bagi setiap warga belajarnya. Kerangka belajar yang dibangun adalah kerangka berpikir yang memungkinkan setiap orang bisa berproses, menggali pengalamannya, menemukan peristiwa-peristiwa sehingga apapun pengetahuan yang diperoleh merupakan pengalaman nyata. Hingga saat ini riset individu maupun kolektif masih merupakan pilihan metode yang mampu menjadi alat membangun kerangka berpikir yang sesungguhnya.

Pilihan Metode riset di SALAM mulai diterapkan sejak tingkat pendidikan dasar. Teman-teman kecil di kelas 1 SD sampai dengan kelas 3 SD melakukan riset bersama-sama satu kelas. Sementara untuk kelas di atasnya riset bersifat individual, yang dimaksudkan untuk mendorong kemandirian belajar sesuai minatnya serta memperkuat peran orangtua sebagai salah satu pilar dalam tri sentra pendidikan.

Apa saja yang diriset oleh anak? Apa saja, sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak, sesuatu yang sedang menarik perhatiannya, atau sesuatu yang sedang ditekuninya. Dari pengalaman beberapa semester lalu, anak dimerdekakan untuk memilih tema sendiri. Hasil dari pilihan yang memerdekakan ini beragam. Ada yang memang sejalan dengan minatnya, namun ada juga yang “mau-maunya orangtua”. Ada yang sangat strategis untuk menjadi pintu masuk nyata belajar berbagai hal, ada pula yang terlalu minimalis dan terlalu jauh jika harus dikaitkan dengan dimensi belajar lainnya.

Berdasar pengalaman tersebut, fasilitator harus aktif mencari pilihan-pilihan beragam, namun strategis untuk digunakan sebagai sumber belajar yang beragam. Ya belajar menulis, membaca, berhitung, dalam konteks ilmu alam maupun ilmu sosial, tak ketinggalan pula untuk menumbuhkan area sosial emosional, kebiasaan baik dan karakternya. Minat anak tentu saja menjadi pertimbangan utama, tetapi menyediakan ruang diskusi yang melibatkan anak dan orangtua hingga menemukan tema strategis menjadi tugas fasilitator.

Refleksi berkelompok. Foto Anang Istiawan

Kami (Masih Tetap) Tidak Seragam

Merancang proses belajar hingga satu semester ke depan menjadi Pekerjaan Rumah berikutnya. Meskipun belum utuh, fasilitator telah melukiskan gambaran umum proses belajar dengan tujuan umum seperti dalam kurikulum yang telah disusun sebelumnya. Jadi SALAM juga punya kurikulum? Ya, tentu saja. Terkait dengan kurikulum nasional kami pilih yang penting-penting saja, kurikulum nasional yang tidak masuk akal tentu saja kami abaikan.

Dalam merancang, tujuan umum tersebut kemudian diterjemahkan secara lebih rinci oleh masing-masing kelas dalam bentuk langkah-langkah proses belajar. Penerjemahan tersebut mengacu pada tiga aspek yang di gunakan SALAM untuk menentukan target belajar. Pertama pemahaman apa yang hendak dikembangkan. Selanjutnya adalah kemampuan apa yang hendak diperdalam. Dan yang terakhir adalah nilai-nilai, prinsip, serta sikap apa yang hendak ditumbuhkan.

Tujuan capaian yang diturunkan dalam indikasi seperti yang ada dalam kurikulum, dalam kesempatan refleksi juga kami cermati—karena bisa menjadi jebakan batman untuk terjerumus kembali ke dalam pola pendidikan yang menyeragamkan. Tidak, kami tidak boleh terjebak! Karenanya meskipun ada tujuan umum, proses belajar tetaplah punya tujuan individual dengan dasar keyakinan bahwa setiap anak itu unik, demikian pula dengan bakat dan potensi yang dimilikinya. Fasilitator tidak boleh terjebak menentukan indikator dan capaian yang sama bagi setiap anak. Sebaliknya fasilitator (dan juga orangtua tentunya) harus menyadari bahwa tugas mereka adalah membantu menemukan dan menumbuhkan kekuatan masing-masing anak yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

Apa yang diharapkan dari proses workshop fasilitator ini?

Tidak berhenti untuk belajar dan mengajak belajar, begitulah seharusnya yang terpikir dari kami—fasilitator—setelah workshop ini berakhir. Karena sebenarnya enam bulan ke depanlah perjalanan belajar yang sesungguhnya. Semoga dengan mau berproses dan belajar bersama fasilitator akan semakin terampil untuk mendampingi anak-anak mengembangkan potensi dasar secara jasmani dan rohani, memahami sebab akibat sehingga dapat mengerti kecenderungan dirinya, mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, serta yang terpenting mampu mengarungi gelombang kehidupan berikutnya. []