Selamat Datang Warga Baru SALAM

Lebaran telah usai. Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Bagi sekolah dengan format sekolah komunitas seperti Sanggar Anak Alam (SALAM), tahun ajaran baru berarti tidak hanya menyambut siswa-siswa baru, namun juga orangtua murid baru. Menyambut teman-teman orangtua, anggota baru komunitas ini, jelas lebih mendebarkan daripada menyambut siswa baru.

Selamat Datang Keluarga Baru SALAM Foto; doc. Omah Guyub

Dengan siswa, intensitas perjumpaan bisa terjadi hampir tiap hari. Pengenalan tentang cara belajar SALAM akan cepat diadaptasi oleh anak. Mulai dari kesepakatan tentang memilah sampah, mencuci sendiri piring dan gelas kotor, hingga pola interaksi antar anak bisa dibangun lebih intens. Sementara dengan orangtua, seringkali harus menunggu momentum semacam ‘inisiasi orangtua’ atau pertemuan awal semester untuk memperkenalkan nilai-nilai yang diamini komunitas.

Untuk itu ijinkan saya menyambut teman-teman anggota baru komunitas ini dengan bercerita sedikit tentang beberapa adat kebiasaan di SALAM yang mungkin akan terasa ‘baru’ bagi para orangtua. Adat kebiasaan yang, tiga tahun yang lalu, bagi saya juga terasa unik.

Giliran Snack

Di kelas Kelompok Bermain (KB) dan Taman Anak (TA), kudapan anak akan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orangtua. Di hari-hari tertentu, dapur sekolah akan menyediakan makan bersama. Sementara di hari-hari lainnya kudapan disiapkan oleh orangtua secara bergilir. Untuk itu disepakatilah tugas giliran snack yang jadwalnya disusun oleh fasilitator untuk kemudian disosialisasikan pada seluruh orangtua.

Setiap hari, anak-anak kelas KB dan TA akan menyantap kudapan bersama-sama pada kisaran pukul 11.00 WIB. Sebelum menyantap kudapan, teman-teman kecil ini akan diajak untuk antri mencuci tangan. Antri tak perlu rapi, yang penting tertib. Tidak menyerobot antrian, tidak saling dorong dan sebagainya. Setelah semua selesai cuci tangan, teman-teman kecil akan berkumpul melingkar, berdoa dan berterimakasih pada teman yang hari itu mendapat giliran membawa kudapan. Dulu, saya sangat kesulitan membuat anak saya menjawab “sama-sama” seusai semua temannya mengucapkan koor “Terimakasih Jaluuu…”. Mungkin Anda juga akan mengalami hal yang sama. Atau justru sebaliknya, anak-anak Anda akan merengek untuk membawa snack setiap hari karena ingin mendapatkan ucapan terimakasih dari kawan-kawannya. Seperti yang terjadi pula pada anak saya, di tahun keduanya di kelas KB.

Dukung 100% Pangan Lokal

Beberapa catatan untuk ‘giliran snack’ ini adalah snack harus berupa kudapan sehat, tidak mengandung perasa, pewarna dan pengawet buatan. Selain itu hindari bungkus plastik, apalagi stereofoam. Jika dipahami sekilas prasyarat ini tampak mudah. Namun pada prakteknya tidak. Terutama jika Anda tidak gemar memasak seperti saya. Tiap tiba giliran membawa snack, bahkan hingga hari ini, saya masih grogi warbiasah.

Selain itu, tampaknya Anda akan perlu belanja beberapa jenis wadah makanan yang bisa muat banyak dan dapat mengakomodir berbagai jenis kudapan. Mulai dari yang kering- dingin hingga basah-beruap. Tradisi ‘giliran snack’ ini resmi menjadikan saya pembaca setia katalog Tupperware.  Tentu saja, karena Lion Star tidak punya agen-agen tersembunyi (yang menyamar menjadi orangtua murid) dengan katalog full colornya yang terselip di mana-mana.

Memilah Sampah

Seperti sudah diceritakan oleh banyak orang, anak-anak SALAM sangat mahir memilah sampah. Hal ini tidak terjadi begitu saja. Sejak kelas KB, anak-anak sudah diajak untuk mencuci plastik bekas pembungkus susu kedelai, membuang sampah plastik, sampah kertas dan sampah plastik keras di tong-tong yang berbeda, serta membuang sisa makanan dan kulit buah di biopori. Kebiasaan ini awalnya merepotkan bagi saya. Pertama, saya sebagai orangtua juga harus ikut memilah sampah di rumah. Selain itu saya juga sering mendapati anak saya berkomentar (dengan suara keras) melihat orang asing di tempat umum yang membuang sampah sembarangan.

Betapa Banyak Sampah plastik di sekitar kita

Namun dampak positifnya jauh lebih besar. Saya jadi tahu tentang bagaimana membuat komposter untuk sampah organik skala rumah tangga, bagaimana membuat kompos dari daun kering, hingga berperilaku mengurangi sampah plastik. Anda pun tak perlu heran jika beberapa tahun kemudian mendapati diri Anda sendiri meracau ketika menghadiri acara halal bihalal yang suguhan minumannya hanya berupa aqua gelas dan teh gelas.

Cuci Piring Sendiri

Di SALAM, terutama sejak jenjang Taman Anak (TA) yang setara dengan Taman Kanak-kanak, anak-anak sudah diajak untuk mencuci sendiri piring makan dan gelas mereka. Di kelas TA, momentum ini paling tidak terjadi tiap 2 Kamis sekali jika tiba saatnya makan bersama dari sekolah, atau saat orangtua memilih menyediakan kudapan berat seperti mie, nasi uduk, atau spageti. Tentunya sebagai orangtua, sebaiknya kita berkomitmen untuk melanjutkan kebiasaan baik ini di rumah, alih-alih melarang anak-anak kita mencuci sendiri piringnya. Percayalah, mendapati anak menjadi lebih mandiri sejak usia dini sangat layak dibanding terjadinya pemborosan sunlight dan lantai dapur yang basah di sana-sini.

Dibiasakan habis makan, minum cuci sendiri

Potluck

Meskipun komunitas SALAM menghindari penggunaan istilah dalam bahasa asing, namun rupanya kami belum menemukan padanan kata yang pas untuk ‘potluck’. Potluck artinya setiap keluarga membawa kudapan untuk mendukung berlangsungnya sebuah acara.

Tradisi potluck pertama kali saya alami saat kunjungan ke rumah kawan sekelas anak saya, atau biasa disebut homevisit. Setiap kali homevisit, setiap anak diharap membawa potluck snack sebanyak 5 biji. Sebenarnya tidak ada jumlah paten untuk kudapan yang harus dibawa. Ukuran minimalnya adalah sebanyak yang bisa dihabiskan oleh sejumlah anggota keluarga yang ikut berkunjung.

Potluck kemudian bisa diberlakukan pada acara apapun, mulai dari homevisit hingga pasar Ekspresi. Jika dibutuhkan, potluck bisa dibuat bertema dan tidak melulu snack. Seperti pada buka bersama seluruh warga belajar SALAM, akhir semester lalu.  Karena acara utamanya adalah buka bersama, maka perlu ada makan besar, kudapan, sekaligus buah dan minuman. Sebelumnya dapur SALAM telah menentukan bahwa nasi putih dan teh hangat akan disediakan oleh pihak sekolah.

Kemudian tiap-tiap grup orangtua di tiap-tiap kelas akan membuat daftar absensi, yang sering disebut dengan ‘urut kacang’, dengan menulis lauk/ snack/ minuman/ buah yang akan dibawa. Jika jumlah warga dalam satu kelas terlalu banyak, orangtua dapat menyepakati untuk patungan dan memesan lauk bersama. Lagi-lagi, uang yang telah Anda investasikan untuk kredit Tupperware tidak akan sia-sia untuk adat kebiasaan satu ini.

Bagi orangtua yang gemar memasak, potluck bisa menjadi ajang menyalurkan hobi dan kreatifitas. Potluck juga mengakomodir semangat berbagi antar anak dan orangtua. Saya sendiri paling gemar membawa pisang untuk potluck. Selain praktis, sehat, higenis dan lezat, kemasan alami pisang menjadikannya buah yang mengusung sifat-sifat kemandirian dan independensi. Halah.

Homevisit

Seperti terkisah tadi, ada sebuah tradisi SALAM yang cukup unik yaitu homevisit. Setiap anak bisa mengundang kawan-kawannya untuk mengunjungi rumahnya di hari-hari sekolah. Umumnya, kegiatan ini akan dijadwalkan oleh masing-masing kelas sebanyak sekali tiap bulan. Apa saja yang akan berlangsung saat homevisit? Homevisit di SALAM artinya memindahkan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah. Untuk itu sebisa mungkin anak-anak dan orangtua yang menjadi tuan rumah homevisit mempersiapkan kegiatan yang mengandung muatan ‘belajar’. Akan lebih menarik jika kegiatan itu terkait dengan tema riset anak-anak atau profesi orangtua.

Namun jika hal itu tidak memungkinkan, calon tuan rumah homevisit dapat berdiskusi dengan fasilitator kelas. Di kelas KB, misalnya, fasilitator akan melakukan survey lokasi terlebih dahulu untuk melihat potensi kegiatan yang bisa dibangun di sekitar rumah. Homevisit di SALAM adalah acara yang sangat digemari anak-anak. Setiap anak yang pernah mengalami homevisit, akan menanti-nantikan gilirannya tiba menjadi tuan rumah. Di kelas TA, karena jumlah murid mencapai 30 anak, beberapa anak yang rumahnya berdekatan dapat bergabung untuk menjadi tuan rumah bersama. Hal ini berarti orangtua-orangtua mereka akan berkoordinasi dan berbagi tugas, mulai dari menjadi fasilitator kegiatan hingga memasak lauk-pauk untuk makan siang.

Anak-anak SALAM Home Visit. Foto: Roslinda Noor

Dengan segala kebiasaan baik itu, Anda tidak perlu enggan menjadi tuan rumah untuk acara apapun bagi komunitas unik ini. Bagaimana tidak? Suguhan dibawa sendiri oleh para tamu, piring kotor dicuci sendiri oleh tiap orang, sampah organik dan unorganik sudah terpisah sejak kita tunjukkan dimana letak komposter dan keranjang sampah kering, sisa kudapan dan lauk dibagi rata dan dibungkus dalam masing-masing wadah makanan yang dulunya digunakan untuk wadah potluck. Bahkan tamu-tamu dari komunitas ini tidak akan benar-benar habis jika tempat berlangsungnya acara belum benar-benar bersih.

Bandingkan dengan pertemuan dengan komunitas lain yang melibatkan kebutuhan hidangan. Pertama, para hadirin tidak mengenal konsep potluck. Ketika kemudian disepakati untuk membawa potluck alih-alih pesan catering, hadirin tidak membawa potluck. Saat mendekati waktunya makan, baru bingung membeli potluck. Saat membeli potluck lalu kebanyakan. Saat selesai makan, piring tidak dicuci, bahkan tidak ditumpuk. Saat makanan sisa banyak, tidak mau membawa pulang. Mungkin hadirin mengira, dimana-mana adalah restoran. Lalu saat kita mengeluh tentang hal-hal sepele begitu, kita akan dianggap aneh.

Meski kemudian saya menjadi ‘orang aneh’ ketika kembali ke khalayak umum, namun bergabung dengan SALAM membuat saya lebih dekat pada kesadaran pangan  dan lingkungan. Pengetahuan tentang isu-isu lingkungan tidak hanya sejauh video enampuluh detikan yang banyak beredar di media sosial. Keprihatinan kita akan pangan dan lingkungan akan menjadi laku sehari-hari, mengakar lalu menjadi kebiasaan. Untuk itu, kelak jika Anda sudah mendapati diri sendiri mengomel bawel seusai jadi tuan rumah acara apapun diluar komunitas SALAM, saya ucapkan selamat. Selamat menjadi orang aneh. Aneh karena dianggap baru, tidak umum—padahal apa yang diceritakan di atas justru bukan hal baru. Hidup komunal, kolektifitas yang dibangun berlandaskan kesepakatan, kebersamaan justru sudah hidup teramat lama jauh sebelum modernisasi melindasnya.[]