Lima puluh tahun. Itu bukan waktu yang pendek. Itu umur yang cukup panjang untuk membesarkan anak, membangun rumah, atau menanam pohon sampai berbuah. Tapi ternyata, untuk satu hal yang bernama “pendidikan”, waktu lima puluh tahun belum cukup untuk menumbuhkan satu gubug keadaban yang teduh dan adil bagi anak cucu bangsa.

Lima puluh tahun yang lalu, Mas Willy — WS Rendra — menabuh genderang kegelisahan lewat Sajak Seonggok Jagung.
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemudah
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
Ia melihat petani;
Ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar…
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kue jagung.
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik
etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarnya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi
asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja
bila pada akhirnya
ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepi!
Ia tidak sedang membacakan puisi. Ia sedang menggugat sistem. Ia sedang bersujud di hadapan nasib rakyat. Ia menyodorkan jagung, bukan sebagai makanan, tapi sebagai pertanyaan. Pertanyaan tentang manusia. Tentang martabat. Tentang untuk apa sekolah kalau hanya untuk menjauhkan rakyat dari tanahnya sendiri?
Itu bukan sekadar puisi. Itu adalah doa yang dibacakan dalam bentuk protes. Itu adalah khutbah Jumat bagi bangsa yang kehilangan arah kiblatnya.
Dan sekarang, lima puluh tahun kemudian, kita bertanya — bukan dengan suara, tapi dengan dada yang sesak — apakah keresahan itu sudah dijawab? Apakah jagung itu sudah berubah jadi roti untuk rakyat, atau justru dijual murah ke negeri seberang demi kurs valuta asing?
Jangan-jangan, kita masih terjebak pada definisi pendidikan yang keliru. Kita pikir pendidikan itu soal gelar. Kita kira belajar itu soal nilai rapor. Kita bangga pada ranking dan akreditasi, tapi lupa bertanya: manusia macam apa yang sedang kita bangun?
Pendidikan di negeri ini masih seperti gedung megah yang dibangun di atas tanah sewa. Kurikulumnya berubah-ubah, silabusnya dikotak-atik, tapi arah dasarnya tidak pernah menyentuh jantung masalah. Yakni: bagaimana membentuk manusia Indonesia yang tahu diri, tahu sejarah, dan tahu tanggung jawab.
Mas Rendra menulis dari kegelapan, tapi berharap pada cahaya. Kini, kita membaca puisinya di tengah sorotan lampu LED dan WiFi cepat, tapi barangkali cahaya itu justru semakin pudar. Sebab sekolah-sekolah kita terlalu sibuk mengejar target, tapi lupa merawat akal dan jiwa.
Kita punya anak-anak cerdas yang bisa menjawab soal pilihan ganda, tapi bingung membedakan mana cinta dan mana nafsu. Kita punya lulusan terbaik yang pandai menyusun skripsi, tapi gagap ketika harus bicara dengan petani atau nelayan.
Mas Rendra, maafkan kami. Jagungmu masih tergolek. Masih seonggok. Belum jadi ladang. Belum jadi kehidupan.
Tapi kami belum menyerah. Masih ada anak-anak muda yang membaca puisi, bukan untuk lomba, tapi untuk hidup. Masih ada guru-guru yang mengajar bukan demi tunjangan, tapi karena cinta. Masih ada orang tua yang percaya bahwa mendidik anak bukan sekadar menyekolahkan, tapi menemani tumbuh menjadi manusia.
Karena itu, mari kita nyalakan kembali keresahan. Keresahan itu suci. Ia adalah bentuk cinta paling jujur. Ia adalah jalan menuju perubahan.
Seperti yang pernah dibilang Cak Nun di banyak panggung kecil: pendidikan sejati bukan yang membuatmu pintar, tapi yang membuatmu tahu ke mana harus melangkah sebagai manusia. Maka mari kita mulai langkah itu. Meski pelan. Meski tertatih. Sebab bangsa ini tak butuh banyak profesor, tapi butuh banyak pecinta yang jujur dan tahu arah.
Dan semoga, di tahun-tahun mendatang, seonggok jagung itu tak lagi hanya jadi simbol kegelisahan. Tapi jadi tanda bahwa kita pernah resah — dan akhirnya bergerak.[]

pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply