SIAPA TAKUT BEREKSPRESISi?

Tenda biru sudah tegak terpasang di tengah tanah lapang halaman Sanggar Anak Alam (SALAM). Kursi serta meja yang ditempeli nama di setiap pojokannya telah berderet rapi sejajar dari barat ke timur. Panggung sederhana dengan sentuhan dekorasi simpel terletak di sisi barat. Pastilah semua pasang mata orang akan menuju kesana untukmelihat sang tokoh utama.

Suasana sudah begitu riuh meskipun acara baru saja dimulai. Kursi-kursi dan meja-meja sudah dipenuhi orang-orang serta beragam barang. Jangan salah sangka. Ini bukan sebuah acara pernikahan, melainkan sebuah kegiatan yang diadakan oleh anak-anak SALAM, yaitu Pasar Ekspresi#16 yang sempat terhenti selama dua tahun karena pandemi. Sebelumnya, Pasar Ekspresi dihelat dua kali dalam setahun.

Pada awalnya, Pasar Ekspresi merupakan dua hal yang berbeda. Bermula dari Pentas Ekspresi yang bertujuan memberikan wadah berekspresi untuk menampilkan bakat anak SALAM, kemudian terinspirasi dari salah seorang orang tua SALAM yang membuat pasar barang bekas di halaman rumahnya untuk didonasikan ke SALAM. Pentas Ekspresi berganti nama menjadi Pasar Ekspresi karena mengadopsi pasar barang bekas yang diinisiasi oleh Annete, namun terhenti. Sejak saat itu lah, Pasar Ekspresi hadir memberikan wadah berekspresi sekaligus menyediakan lapak bagi anak SALAM, orang tua SALAM, dan kerabat SALAM.

Lapak di Pasar Ekspresi ini sangat unik. Setiap pelapak dilarang menjual dagangan dengan kemasan plastik sekali pakai. Pembeli pun harus membawa wadahnya sendiri atau menggunakan kemasan dari daun yang disediakan oleh pelapak. Dalam gelaran Pasar Ekspresi#16 ini, ada beberapa lapak yang unik. Salah satunya adalah milik Ayoube. Ia menamai lapaknya dengan nama ‘Lapak Apa Ini?’. Menarik bukan? Ternyata Ayoube menjual hasil gambarnya yang kemudian dicetak di sebuah gelas.

Selain itu, ada juga lapak yang menjual gambar-gambar lucu. Yang menjadi perhatian adalah hasil dari penjualan gambar-gambar itu akan digunakan untuk menyelamatkan kucing-kucing jalanan. Salah satunya adalah untuk melakukan sterilisasi terhadap kucing. Sehingga selain mendapatkan gambar, kita juga turut berdonasi.

Pada gelaran yang ke-16 yang ini, panitia Pasar Ekspresi mengangkat tema ‘Merdeka Berekspresi’. Entah kebetulan atau memang disengaja, penggunaan tema merdeka berekspresi ini bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Pelaksanaannya pun hanya selisih satu hari saja dengan peringatan hari kemerdekaan. Menurut pengakuan Sena, ketua Pasar Ekspresi#16, awalnya ada 3 usulan tema. Panitia lebih memilih tema ‘Merdeka Berekspresi’ memang karena momen yang pas dengan waktu pelaksanaanya di bulan Agustus, bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, menurut saya itu bukan hal yang terlalu penting untuk dibicarakan. Yang lebih penting adalah substansi dari tema ‘Merdeka Berekspresi’ itu sendiri. Alasan di atas akan menjadi tidak relevan lagi ketika tema ‘Merdeka Berekspresi’ ini benar-benar terwujud dalam gelaran Pasar Ekspresi#16. Bahkan, ketika tidak digelar dalam suasana perayaan kemerdekaan Republik Indonesia sekali pun.

Pemilihan tema merdeka berekspresi untuk Pasar Ekspresi#16 ini menimbulkan sebuah pertanyaandalam benak saya. Apakah mereka yang tampil di gelaran tersebut benar-benar sudah merdeka dalam berekspresi? Apa arti kemerdekaan bagi anak SALAM? Pasar sendiri secara harfiah merupakan suatu tempat atau proses interaksi antara penawaran dan permintaan. Sehingga di Pasar Ekspresi#16 ini, ekspresi lah yang menjadi dagangan merujuk sejarah adanya Pasar Ekspresi yang memang bertujuan memberikan ruang ekspresi bagi bakat anak SALAM.

Salah seorang anak SMA Salam, Sherel yang baru bergabung di Salam tahun ini menyampaikan bahwa merdeka baginya berarti bebas. Lepas dari belenggu, halangan, batasan, atau kekangan apa pun. Sherel juga menyumbangkan satu penampilan tari. Katanya dia berdebar-debar ketika tampil, tetapi dia tetap senang. Lebih lanjut, dari penampilannya tersebut Sherel memaknai merdeka berekspresi sebagai kebebasan menunjukkan diri sendiri secara apa adanya kepada alam semesta.

Lain halnya dengan Tantra, merdeka menurutnya adalah kebebasan memiliki hak dalam melakukan sesuatu. Namun, kebebasan melakukan sesuatu tersebut jangan sampai merenggut hak orang lain. Jadi, kebebasan yang dimiliki dibatasi oleh kebebasan milik orang lain.

Coba kita ingat ketika masa sekolah dulu. Ketika ada kesempatan untuk tampil di acara-acara sekolah, kita cenderung enggan tampil. Banyak sekali alasannya. Ada yang memang merasa tidak punya bakat untuk ditampilkan. Ada yang takut salah kemudian dicemooh oleh teman lainnya yang menonton. Ada yang malu tampil di depan banyak orang. Sampai-sampai panitia membuat peraturan mewajibkan setiap kelas mengirimkan perwakilan. Itu pun orang-orang yang tampil sebagian besar karena terpaksa untuk menggugurkan kewajiban saja. Akibatnya penampilannya tidak maksimal.

Di Salam, setiap kelas juga diminta mengirimkan perwakilan untuk tampil dalam acara Pasar Ekspresi#16. Bedanya, anak-anak Salam cenderung merasa sukarela dan menikmati saat harus berlatih mempersiapkan pentas, hingga tampil di panggung. Bukan sebuah paksaan. “Selama latihan rasanya asyik banget serta dapat mengalami kebersamaan yang seru,” ungkap Sherel. Bahkan, di luar kewajiban mengirimkan perwakilan kelas tersebut banyak anak Salam yang tampil secara personal menunjukkan bakat mereka.

Begitu terlihat perbedaannya, kultur yang satu, yaitu sekolah kita melahirkan trauma dan rasa takut. Sedangkan kultur di Salam yang begitu apresiatif dan memberikan rasa merdeka kepada setiap orang, menghasilkan kepercayaan diri dan rasa aman serta nyaman berekspresi.

Bagi saya sendiri yang mengenyam bangku sekolah lebih dari 10 tahun, tampil mengekspresikan diri di depan orang dapat dihitung menggunakan jari di satu tangan. Baru akhir-akhir ini, setelah saya mengenal komunitas seperti Salam serta berdinamika bersama, saya berani tampil unjuk gigi. Ada rasa aman dan nyaman tanpa takut dihakimi.

Bahkan saya yang buta nada dan kacau dalam mengatur tempo diajak oleh anak-anak kelas 11 SMA Salam untuk tampil di Pasar Ekspresi#16. Entah mengapa saya begitu mudah mengiyakan ajakan tersebut. Biasanya pasti langsung saya tolak dengan alasan tidak bisa bernyanyi. Mungkin karena saya sudah mengetahui lingkungan Salam yang begitu apresiatif sehingga tidak ada rasa takut mencoba tampil meskipun untuk pertama kalinya.

Pasar Ekspresi#16 juga memberikan akses seluas-luasnya kepada siapa pun. Mulai dari anak-anak, fasilitator, orang tua, sampai kerabat Salam. Setiap orang diberikan kesempatan yang sama. Hanya terbatas waktu saja. Menurut Sherel lagi, merdeka itu harus bersama, kalau cuma sendiri tidak jadi merdeka katanya. Pasar Ekspresi#16 benar-benar memberikan kami rasa merdeka berekspresi. Setidaknya merdeka berekspresi menurut definisi kami masing-masing.