Kekasih,
Mungkin kamu pernah membaca sesuatu tentang “Negara Seribu Pulau” di Asia Tenggara, yang disebut Indonesia, dan telah membentuk gambaran tentang kehidupan masyarakatnya. Aku harap kesanmu bukanlah kesan yang sering didapatkan dari buku-buku yang ditulis untuk para turis, yang menggambarkan “surga”, kehidupan yang nyaman dan indah di bawah naungan pohon pelem. Dikelilingi oleh penari dan anak-anak yang bernyanyi sambil membawa bunga.
Terutama, pulau Bali yang indah, sering digambarkan oleh orang Eropa sebagai ideal romantis. Di mana hidup adalah sebuah kebahagiaan dan pepohonan selalu hijau. Tetapi kenyataannya berbeda.
Aku ingin bercerita sedikit tentang negara ini. Tentang kehidupan anak-anak kita dan harapanku untuk masa depan yang lebih baik. Kehidupan kita tidak dapat dipisahkan dari kondisi politik, ekonomi, dan sosial negara.
Pada awal bulan ini, aku harus mengunjungi Kota Jogja untuk menyelesaikan urusan pribadi. Sebagai pekerja dengan gaji UMR Bali, aku tidak mampu menempuh perjalanan Bali-Jogja menggunakan pesawat. Tiket pesawat dibanderol seharga Rp1,2 juta, hampir setengah gaji UMR Bali. Aku hanya memiliki pilihan bus yang harganya masih ekonomis, Rp350 ribu sekali perjalanan.
Dari Bali ke Jogja, aku harus menyeberang lewat Pelabuhan Gilimanuk. Laut yang hanya perlu waktu sekitar 40 menit untuk diseberangi justru bisa membuat kami menunggu hingga empat jam untuk naik kapal. Pada 6 September 2026, puluhan sopir truk logistik bahkan memblokade pelabuhan setelah mengantre lebih dari 12 jam. Antrean itu berkaitan dengan perbaikan dermaga dan penerapan sistem tiba bongkar berangkat (TBB). Para sopir juga mengeluhkan dugaan pengawalan liar yang membuat kendaraan tertentu bisa mendahului antrean.
Pelabuhan bukan sekadar tempat kendaraan naik kapal. Dari sanalah barang kebutuhan sehari-hari dan orang-orang yang pergi bekerja menyeberang dari satu pulau ke pulau lain. Ketika pengelolaannya tersendat, waktu, tenaga, dan uang ikut terkuras.
Selama di Jogja, aku menemui tiga teman yang menjalankan usaha: satu di bidang garmen, satu memasok bahan pangan, dan satu lagi mengelola restoran. Dua teman pertama bercerita tentang omzet mereka yang terus merosot sejak 2020, tahun pertama pandemi Covid-19 di Indonesia. Kini, karyawan di usaha garmen itu tinggal beberapa orang, sementara pemasok bahan pangan terpaksa menjual aset tokonya.
Restoran yang berdiri pada 1998, di tengah krisis moneter Indonesia, ternyata sedang menghadapi keadaan yang tak jauh berbeda.
“Kondisi keuangan sekarang itu sama seperti saat pertama kali restoran ini berdiri, dengan kondisi sosial yang berbeda. Dari omzet yang kami dapat hanya mampu bertahan untuk operasional di bulan yang sama. Tidak ada uang yang bisa disimpan untuk operasional di bulan selanjutnya.”
Di Jogja, keadaan ekonomi terasa lebih berat daripada yang kurasakan di Bali. Mungkin perputaran uang di Bali masih terbantu oleh pariwisata. Setelah seminggu di Jogja, aku pulang. Tiket pesawat sudah menembus Rp2 juta, jadi bus kembali menjadi pilihanku.
Sesampainya di Bali, aku mengambil motor di rumah temanku. Indikator bensinnya masih menunjukkan setengah bar, tetapi aku perlu mengisi bensin sebelum pulang. Di SPBU Batubulan, Pertalite yang biasa kugunakan ternyata habis. Aku akhirnya mengisi Pertamax, tanpa tahu bahwa itulah pengisian terakhir sebelum kelangkaan BBM melanda Bali.
Keesokan harinya, BBM mulai sulit ditemukan. Antrean mengular di berbagai SPBU, dan orang-orang bisa menunggu tiga hingga enam jam. Tetangga kosku sampai harus menginap di SPBU. Ada pula kabar seorang ibu hamil pingsan saat mengantre, karena itu di beberapa SPBU, ambulans dan tenaga kesehatan disiagakan.
Tiga hari kemudian, tangki motorku benar-benar kosong. Seorang teman kantor menawarkan bensin eceran yang ia dapat setelah mengantre panjang. Harganya Rp35 ribu per liter, lebih dari dua kali harga yang biasa kubayar, sekitar Rp16 ribu. Aku terpaksa membeli satu liter. Setidaknya, bensin itu cukup untuk modal membawaku ke SPBU, tempat aku harus mengantre lagi.
Aku menghabiskan tiga jam di SPBU Sibangkaja. Dibandingkan antrean di tempat lain, tiga jam bahkan terdengar singkat. Setelah bekerja delapan jam, kami masih harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM agar bisa menjalani hari berikutnya.
Di tengah antrean, aku menonton kabar tentang Gubernur Bali, I Wayan Koster, yang beradu mulut dengan seorang petugas SPBU. Petugas itu mengeluh kelelahan karena SPBU harus melayani selama 24 jam, tetapi yang ia terima justru bentakan, “Diam kamu!” Aku tak bisa berhenti memikirkan betapa beratnya berdiri berjam-jam menghadapi pelanggan yang sama-sama gelisah, saat tubuh sendiri sudah kehabisan tenaga.
Kelangkaan turut mengubah kegiatan sekolah. Anak temanku sampai tidak masuk selama dua hari karena bapaknya kesulitan mendapatkan BBM untuk mengantarnya. Pada 15–17 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Badung disusul kabupaten lain memberlakukan pembelajaran daring selama tiga hari bagi siswa PAUD, SD, dan SMP untuk mengantisipasi gangguan akibat keterbatasan BBM.
Pesanan di kantorku mulai dibatalkan, lalu kantorku tutup selama tiga hari. Waktu luang yang tak kuharapkan itu kuisi dengan menggulir Instagram dan Threads. Di sana, aku menemukan kabar lain yang membuat kelangkaan BBM terasa bukan satu-satunya hal yang perlu dikhawatirkan.
Unggahan tentang kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra muncul berkali-kali. Asapnya bahkan melintasi batas negara. Pada Oktober 2026, Malaysia dan Singapura mendesak Indonesia bertindak lebih serius. Sejumlah pejabat Malaysia menyerukan langkah bersama negara-negara ASEAN, termasuk kemungkinan tindakan diplomatik dan sanksi bagi perusahaan yang terbukti terlibat dalam pembakaran lahan. Singapura juga mempertimbangkan langkah hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kabut asap lintas negara. Dari layar ponselku, persoalan itu terasa jauh sekaligus dekat.
Seorang teman di Alor mengirimkan foto dan video pantai yang indah, tetapi pemandangannya diselimuti asap abu-abu. Asap itu sudah sampai ke sana, jauh dari pusat kebakaran. Rasanya ganjil melihat tempat seindah itu tertutup kabut asap, batas wilayah mungkin jauh, tetapi udara yang kita hirup tidak selalu mengenal batas.
Di balik kabar kebakaran itu, ada hutan yang kehilangan satwa penghuninya dan warga yang harus menghirup udara tercemar. Anak-anak pun ikut menanggung akibatnya. Di Balikpapan, seorang bayi dilaporkan mengalami sesak napas saat kabut asap menyelimuti wilayah itu. Di Barito Selatan, seorang bayi berusia enam bulan meninggal setelah mengalami sesak napas dan kejang-kejang di tengah kabut asap. Hubungan langsung antara asap dan kedua kasus itu tetap perlu dipastikan oleh pihak kesehatan yang berwenang. Namun, kabar tentang anak-anak yang kesulitan bernapas membuatku sulit mengabaikan satu pertanyaan: udara seperti apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?
Belum selesai memikirkan kabar-kabar itu, empat pesan WhatsApp masuk ke ponselku. Semuanya berisi kode OTP Shopee yang tidak pernah kuminta. Ada juga upaya mengakses ShopeePay, layanan keuangan digital yang kugunakan. Saat kuhubungi, layanan pelanggan mengatakan itu merupakan modus penipuan.
Bahkan untuk urusan sederhana seperti bertransaksi, kita tetap harus menjaga diri dari penipuan dan upaya mengambil alih akun. Rasanya melelahkan ketika hal-hal yang seharusnya memudahkan hidup justru menuntut kita terus waspada.
Pinjaman online ilegal menambah kekhawatiran itu. Otoritas Jasa Keuangan mencatat 31.571 pengaduan terkait pinjaman online ilegal sejak 1 Januari hingga 30 September 2026. Dalam periode yang sama, Satgas PASTI menghentikan 951 entitas pinjaman online ilegal. Di balik angka-angka itu, ada orang yang mungkin sedang terdesak kebutuhan dan berharap pinjaman cepat bisa membuat mereka bertahan sampai hari berikutnya.
Ketika penghasilan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan, tawaran uang yang cair dengan cepat bisa tampak seperti jalan keluar. Namun, bagi sebagian orang, jalan keluar itu justru dapat berubah menjadi beban keuangan yang lebih berat.
Bahkan pasar saham ikut memperlihatkan betapa rapuhnya kepercayaan terhadap keadaan ekonomi. Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 11,4 persen, salah satu penurunan harian terburuk sejak krisis moneter 1998. Pemicu yang disorot adalah kekhawatiran penyedia indeks global MSCI terhadap transparansi, struktur kepemilikan saham, dan praktik perdagangan di pasar Indonesia. Aku bukan orang yang setiap hari mengikuti pergerakan saham, tetapi gejolak seperti ini menambah rasa tidak pasti di tengah hidup yang sudah penuh hitungan.
Pada akhirnya, persoalan ekonomi tak hanya tampak dalam angka di pasar saham. Dampaknya terasa lebih dekat, yaitu pada daya beli dan hal-hal yang masih bisa dibeli dari gaji kita.
Kompas mengangkat persoalan itu dalam video YouTube berjudul “Ayam Goreng di Piring, Daya Beli di Persimpangan”. Di sana, satu porsi ayam goreng digambarkan setara dengan sekitar 80 menit kerja bagi pekerja bergaji UMR Bali.
Delapan puluh menit kerja untuk satu porsi ayam goreng. Setelah itu, masih ada sewa tempat tinggal, bensin untuk kendaraan, dan kebutuhan lain yang menunggu dibayar dari gaji yang sama. Kadang yang membuat lelah bukan hanya harga barang, melainkan perhitungan terus-menerus agar penghasilan cukup sampai akhir bulan.
Di tengah keadaan seperti ini, kami tetap diminta melangkah maju, sementara kemiskinan dan penderitaan seolah diwariskan dari satu masa ke masa berikutnya.
Pada Mei 2026, Badan Pusat Statistik mencatat 7,22 juta orang menganggur di Indonesia. Angka itu sulit dilepaskan dari janji rezim ini untuk menyediakan 12 juta lapangan pekerjaan. Di antara janji dan kenyataan, jutaan orang masih harus mencari pekerjaan sambil memenuhi kebutuhan hidup hari demi hari.
Dan ketika orang dewasa berjuang memenuhi kebutuhan hidup, anak-anak kita tidak benar-benar terlindung dari akibatnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan gizi anak kita. Namun, keamanan makanan yang dibagikan juga menjadi sumber kekhawatiran. Koalisi MBG Watch menyebut sedikitnya 43.838 orang menjadi korban dugaan keracunan sejak program diluncurkan pada Januari 2025 hingga pertengahan Agustus 2026. Mereka juga melaporkan sekitar 1.642 korban baru dalam tiga hari pertama September. Angka-angka itu sulit dibaca tanpa bertanya bagaimana makanan yang dimaksudkan untuk menjaga kesehatan anak kita justru bisa membawa risiko bagi mereka.
Kekasih, masih banyak yang harus dilakukan di negara ini dan banyak tantangan yang harus diatasi. Kemerdekaan hanyalah jembatan menuju kehidupan yang berubah. Tetapi fondasi jalannya belum selesai dikorupsi.
Multatuli, penulis Belanda, pernah menggambarkan Indonesia sebagai “untaian zamrud yang terjalin di sekitar garis khatulistiwa”. Tetapi aku harap membaca ini akan membantu menghilangkan ilusi yang mungkin kamu miliki tentang kehidupan surga di Negara Seribu Pulau ini.
Di mana pun kamu berada, aku mengirimkan salam hangat. Semoga suatu hari nanti, saat kita berbicara tentang negeri ini, kita tak hanya bercerita tentang laut, pepohonan, dan keindahannya. Semoga kita juga bisa bercerita tentang kehidupan yang lebih layak bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya: anak-anak yang tumbuh sehat, keluarga yang tak terus-menerus cemas memenuhi kebutuhan, dan masyarakat yang dapat menatap masa depan dengan lebih tenang.
Alumni SMA Ekperimental SALAM
Leave a Reply