Takhayul Nilai

“Gimana nilai rapor anakmu? Rangking berapa?” Pertanyaan itu mungkin akan sering kita dengar  hari-hari ini. Banyak orangtua yang bangga dengan deret angka 9 di kolom nilai rapor anaknya. Tidak sedikit pula yang menulis “Syukur alhamdulillah, si Kakak masuk tiga besar”, dan lain sebagainya. Bagaimanapun ini menunjukkan bahwa masih ada (masih banyak) orangtua (juga orang dewasa) yang menjadikan nilai dan prestasi akademik sebagai satu-satunya tujuan akhir proses belajar di sekolah.

Foto by. Totok Anwarsito

Anak-anak “dijejali” dengan pengetahuan berupa hafalan-hafalan dan kemudian diakhiri oleh tes-tes standar dengan harapan meraih nilai tinggi. Nilai ini berupa angka-angka yang kemudian dijadikan hakim untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan belajar anak. Orangtua merasa berhasil ketika rapor anaknya penuh angka 9, sebaliknya merasa kecewa dan gagal ketika rapor anaknya banyak berderet angka 6. Keterampilan lain yang dikuasai namun tidak terukur dengan angka akan menjadi sesuatu yang tak dianggap berharga.

Kalau kita bicara soal kesehatan, pasti ada banyak aspek yang diukur. Tidak mungkin dokter di rumah sakit mengeluarkan surat keterangan sehat hanya dengan mengukur kadar asam urat. Begitupun dengan soal kepandaian. Tidak adil tentunya jika kita hanya mengukurnya dengan angka apalagi dibatasi hanya untuk pelajaran-pelajaran tertentu : bahasa, matematika, fisika, atau kimia. Lalu mereka yang terampil memanjat, lihai bermain bola, suka menuangkan ide dalam gambar, lincah dalam menari, atau yang mulai senang nge-MC, akan mendapat sebutan apa?

Angka dan kepandaianpun menjadi semakin rumit (atau justru sempit) ketika kemudian dibandingkan dengan milik orang lain. Tidak heran jika kemudian muncul dikotomi anak pintar dan anak bodoh. Perilaku orang dewasa yang gemar membanding-bandingkan anak dengan orang lain sebetulnya justru mendorong seseorang untuk hanya mementingkan hasil akhir dan bukan proses. Munculnya perilaku mencontek, plagiarisme, sangat dipengaruhi oleh cara pandang ini. Padalah jika merujuk pada perkembangan anak seutuhnya, semestinya kita menggunakan penilaian yang tolok ukurnya berasal dari diri. Dalam konteks belajar, berarti membandingkan hasil belajar anak saat ini dengan sebelumnya, bukan membandingkannya dengan anak lain. Jadi bersaing dan berkompetisi itu dengan dirinya sendiri dari waktu ke waktu, lebih baik dari hari ke hari.

Bagaimana dengan SALAM?

Dunia pendidikan di Indonesia memang masih menjadikan anak (siswa) sebagai satu-satunya input dan diikuti oleh hasil belajar—yang seringkali dipaksakan diukur dalam selembar kertas atau ijazah—sebagai satu-satunya output. Sehingga kita seperti digiring untuk memandang bahwa tujuan pendidikan semata-mata untuk mendukung, mendorong, dan memfasilitasi anak meraih nilai tertinggi atau setidaknya nilai standar. Begitulah kenyataannya.

SALAM mendobrak takhayul-takhayul yang meracuni sebagian besar orang. SALAM percaya bahwa seharusnya yang menjadi input dalam proses penyelenggaraan pendidikan itu bukan hanya anak, tetapi juga orangtua murid, guru (fasilitator), dan tak luput : penyelenggara sekolah. Sementara outputnya bukanlah soal nilai ujian atau nilai rapor, melainkan : terciptanya KOMUNITAS dan EKOSISTEM BELAJAR untuk terciptanya suasana belajar yang merdeka.

Jadi  di SALAM tidak ada rapor? Tentu saja ada catatan fasilitator, tetapi bukan menjadi tujuan utama dari perjalanan belajar yang panjang. Bagi SALAM, rapor lebih berfungsi sebagai sarana dokumentasi untuk melihat perkembangan anak dari semester ke semester. Seorang wali murid pernah bercerita kepada saya,

“Saya dan anak suka sekali baca-baca rapor bersama. Nggak bosan-bosan rasanya. Suka terharu ketika dulu di kelas satu masih ada catatan tentang proses jatuh bangunnya dia melakukan penyesuaian, soal perjuangannya untuk doyan makan sayur, soal bermain dan konflik dengan teman. Dari semester ke semester selalu ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Meski tiap semester juga selalu ada tantangan baru yang harus dihadapi. Catatan ini membuat saya semakin yakin, anak saya sedang terus belajar dari banyak hal, banyak orang, dan banyak kejadian di sekitarnya. Dia sendiri juga selalu antusias membaca catatan hasil belajarnya. Dia ingat betul detil peristiwa yang dituliskan fasilitatornya.”

Untuk melihat perkembangannya anak dari waktu ke waktu seperti yang diceritakan orangtua murid di atas, tidaklah mungkin jika rapor SALAM menyajikan angka. Apalah yang bisa diceritakan oleh angka 6, 7, 8, atau bahkan 9? Bisakah ia menceritakan tentang proses, jatuh bangunnya, kebangkitannya dari kegagalan, hingga semangat yang baru lagi untuk mencoba? Bisakah angka bercerita soal perkembangannya yang signifikan soal penyesuaian dirinya dengan teman? Tidak bisa bukan?

Karenanya kami tidak pernah dan tidak akan menggunakan angka untuk mendokumentasikan hasil belajar. Sebaliknya kami menggunakan deskripsi yang mewakili catatan proses belajar anak di tiap tahapnya. Catatan saat mereka melakukan perencanaan riset, pencarian data, olah data, hingga tahap workshop, di mana setiap tahap ini memiliki dinamika tersendiri. Catatan yang berupa deskripsi ini setidaknya mampu mewakili bagaimana ketertarikan, keaktifan, konsistensi, respon, kreativitas, inisiatif, ekspresi, kecepatan, ketelitian, ketekunan dan kecenderungan anak menyelesaikan tugas selama mengikuti proses risetnya. Kalau disajikan dalam bentuk angka, mana bisa?

SALAM tidak mengenal sistem rangking. Pertama, karena SALAM menginsafi keunikan setiap anak. SALAM percaya bahwa anak-anak memiliki minat dan kecerdasan yang berbeda-beda, maka tidak ada satu ukuran mutlak untuk mengukur kecerdasan seseorang. Membandingkan kecerdasan anak satu dengan yang lainnya, secara ekstrim bisa diibaratkan ketika kita membandingkan kemampuan terbang antara burung dengan orang utan. Atau ketika kita membandingkan kempuan berenang antara kucing dengan ikan. Tidak adil bukan? Kedua, karena SALAM percaya bahwa kompetisi yang sebenarnya adalah dengan diri sendiri. Berhasilnya belajar bukan karena mampu mengalahkan orang lain, tetapi karena menjadi lebih baik, lebih paham, makin mampu dari hari ke hari. Begitu seharusnya bukan?

Maka, kalau di liburan ini ada yang masih latah bertanya, “Gimana nilai rapornya, rangking berapa?” kepada warga belajar SALAM, kemungkinan ia akan mendapatkan jawaban gembira dari mereka, “Di sekolahku nggak pakai nilai angka, nggak pakai rangking juga. Bentuknya kayak cerita, mau baca?”  []