Meneliti

Taman Anak SALAM

Semua orang telah menyadari bahwa rentang usia 0-8 th bagi anak merupakan masa yang sangat istimewa, maka rentang usia ini disebut sebagai masa EMAS. Pertumbuhan fisik dan juga perkembanganan intelektualnya tumbuh amat pesat. Pada masa Emas ini anak sangat membutuhkan pengasuhan yang tepat dan ruang yang merdeka untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Siapakah pengasuh yang tepat untuknya?

Orangtualah pengasuh yang paling tepat. Mengapa? Karena kebutuhan anak pada awal hidupnya yang utama adalah kasih sayang dan kehangatan. Dalam kehangatan rahim ibulah  janin memulai kehidupannya. Dekapan seorang ibu pada waktu menyusui, merupakan komunikasi dan jalinan yang erat antara ibu dan anak. Ini merupakan modal yang amat besar bagi anak menghadapi dunia luar, dan secara terus menerus akan terakumulasi membentuk jiwa yang kuat sebagai manusia yang kehadirannya diharapkan dan diterima. Di kelak kemudian akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki rasa percaya diri yang kuat. Berbeda dengan anak yang lahir tidak diharapkan dan dikehendaki oleh orangtuanya. Anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang minder dan rendah diri, situasi seperti ini akan menghambat tumbuh kembangnya.

Mobil Blambir
Mobil Blambir

Tri Pusat Pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni keluarga, masyarakat dan Perguruan, amatlah tepat untuk diterapkan. Keluarga menjadi pendidik yang utama dan pertama, karena dalam keluargalah nilai-nilai luhur ditanamkan. Dalam Masyarakat nilai-nilai luhur yang ditanamkan keluarga dapat menjadi bekal dalam bergaul dan di perguruan atau sekolah intelektualnya diasah. Dengan jiwa penuh kehangatan, dan nilai-nilai yang luhur anak-anak dapat belajar dengan merdeka. Menghargai satu sama lain dan mengutamakan kerjasama.

Taman Anak di SALAM, yang sekarang ini lebih dikenal dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang utama mengacu pada peran orangtua sebagai pendidik yang utama dan pertama. Guru lebih berperan sebagai fasilitator karena SALAM meyakini anaklah maha guru bagi dirinya.

Lalu proses pendidikan seperti apa yang tepat untuk  Anak Usia Dini?

Mari terlebih dahulu kita pahami seperti apa anak usia dini? Mereka bukan orang dewasa mini. Anak-anak usia dini selalu aktif, rasa ingin tahunya tinggi, daya ingatnyapun tinggi, mereka banyak bergerak, konsentrasinya masih pendek, kelekatan dengan orang yang dipercaya masih tinggi, dan suka mengkhayal atau berimajinasi. Maka pada anak-anak usia dini yang sehat selalu tampak energik, “nglidik, criwis, ngenyel”. Mereka membutuhkan ruang yang merdeka untuk mengekspresikan potensinya tersebut, maka pendidikan bagi mereka yang paling tepat adalah BERMAIN.

Bermain pada anak esensinya sama dengan orang dewasa bekerja. Dalam bermain anak-anak selalu“serius” mereka membuat aturan, strategi, menirukan kejadian-kejadian yang sesungguhnya. Secara naluriah anak mempunyai kecenderungan untuk “niteni”(melihat dengan seksama apa yang ada disekitarnya), kemudian Nirokke (menirukan apa yang dilihat) dan diharapkan “nambahi” (menginovasi).Ketiga hal tersebut diatas  oleh Ki Hadjar dibakukan menjadi pedoman proses pendidikan Tiga N: (Niteni, Nirokke, Nambahi).

Oleh karena itu Taman Anak di SALAM proses belajar yang utama yakni BERMAIN. Anak diberi ruang yang merdeka untuk mengekspresikan dirinya, fasilitator lebih mengikuti atau dalam metode pendidikan Among Ki Hadjar Dewantara disebut Tut Wuri Handayani. Fasilitator bertugas mengamati sejak anak sejak awal masuk sampai selesai, apa kecenderungan-kecenderungan, apa keunikan yang nampak dicatat dan diproses bersama. Proses belajar menitikberatkan pada kecenderungan anak. Tema-tema pembelajaran dirancang fleksibel, yang tidak boleh terlewatkan adalah memberi apresiasi dan memproses seluruh kejadian yakni belajar  dari peristiwa. Apabila tidak terjadi peristiwa maka fasilitatornya yang harus merangcang peristiwa, sehingga semua anak mempunyai kesempatan “mengalami”, dari sinilah pijakan belajar dimulai, jadi tidak belajar berbasis hafalan.

Bermain dapat dilakukan di ruang kelas, di sekitar sekolah, di rumah teman (keluarga) secara bergilir atau ke tempat-tempat yang disepakati bersama misal ke kebun binatang, museum, kantor pos, pemadam kebakaran dan lain sebagainya. Anak-anak juga diberi kesempatan bermain sendiri selain bermain bersama teman-teman.

Maka kami menyusun rancangan belajar untuk Taman Anak sebagai berikut;

Titen yakni proses menjelajahi pengetahuan melalui buku, penuturan serta mengamati alam sekitar sebagai awal kegiatan.

Meniti
Meniti

Meniti galengan (pematang) yakni melakukan pengamatan langsung di area persawahan sekitar sekolah, sejak para petani melakukan tandur (menanam padi) sampai dengan para petani di sekitar sekolah memanen padinya, juga melakukan petualangan di sepanjang kalen (parit), kandang ternak, tobong bata dan aktivitas di sekitar sekolah.

Dolanan yaitu media yang digunakan untuk mengasah apresiasi anak seperti menari, bernyanyi, bermain musik, menggambar dengan berbagai warna baik yang alami maupun sintetis non toksit, permainan tradisional seperti bakiak double, egrang bathok, jamuran dan lain sebagainya.

Racik-racik yaitu aktivitas dalam ruangan dengan fokus perkembangan motorik halus seperti menggunting, menempel, membuat kerajinan tangan, menyiapkan masak seperti memotong bayam, membuat kue, membuat jamu serta kegiatan yang serupa.

Jalan-jalan, kegiatan ini dilakukan secara periodik dengan tujuan yang disesuaikan dengan tema untuk menambah wawasan anak-anak sekaligus belajar bersama masyarakat.

Disamping itu, ada empat perspektif yang kami kembangkan yaitu Pangan, Kesehatan, Lingkungan hidup dan Sosial Budaya.

Tema-tema pembelajaran yang disusun harus mencerminkan ke empat hal di atas. Sejak dini anak-anak kami kenalkan dengan makanan sehat, makanan olahan non msg, pemanis sintetis, pengawet, pengenyal dan sebagainya yang tidak alami. Orangtua kami libatkan dalam menyediakan makanan camilan setiap hari secara bergilir, makan siang diselenggarakan seminggu sekali secara bergilir orang tua dan sekolah yang menyediakan. Anak-anak juga diajak menanam sayuran dan tanaman obat sederhana untuk mengobati bila terluka seperti lidah buaya, binahong, sirih dan tanaman buah. Anak-anak juga dilibatkan untuk membersihkan sekolah dan lingkungan di sekitarnya. Secara periodik anak-anak juga terlibat dalam peristiwa budaya seperti pesta panen, tradisi Suran dan gelar budaya atau pentas seni.

Membaca dan menulis tidak secara khusus kami lakukan. Seminggu sekali anak-anak mendengarkan cerita selang-seling dengan dongeng, dan menonton film.Mengenalkan tulis menulis diawali dengan menggambar terlebih dahulu, sebelum anak mengenal huruf mereka sudah mengenal simbol-simbol,dan kami memberi kesempatan anak-anak dengan merdeka mengekspresikan dirinya melalui gambar.

Bersosialisasi

Bersosialisasi merupakan bagian penting dalam proses belajar, karena manusia merupakan  makluk sosial, sehingga dalam hidupnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam bermain anak membutuhkan teman, namun untuk berteman anak-anak membutuhkan pendampingan. Bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain, mengutarakan kehendak, mengajak teman, ini semua membutuhkan bimbingan.

Taman Anak yang kami mulai pada anak usia dua tahun, mereka belum semua lancar berbicara, maka mendengarkan dengan seksama menjadi penting. Fasilitator harus berbicara dengan tenang, jelas, nada sedang (tidak tinggi dan tidak rendah). Tidak menunjukkan wajah yang panik dan berteriak apabila menemukan anak-anak yang melakukan aktifitas diluar dugaan, misal memanjat dinding, memukul teman, masuk ke parit dan lainnya. Dekati, pegang dan tenangkan, bujuklah dan apabila sudah tenang tanyakan mengapa dia melakukan hal tersebut. Demikian juga apabila terjadi perkelaian, tenangkan, bujuk sampai mereka menyadari apa yang dilakukan, ajaklah untuk saling memaafkan dan ajaklah untuk membuat kesepakatan untuk tidak mengulang perbuatannya. Anak harus dilatih untuk menyelesaikan semua permasalahan yang yang mereka hadapai, tidak sekedar mereka sudah diam, namun harus sampai mereka menyadari apa yang mereka lakukan, inilah awal mereka belajar bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan.

Berikan apresiasi setiap kali anak-anak membuat kebaikan, misal membantu teman, tidak berebut mainan, mau antri, dapat bermain bersama, mau meminta maaf, berterima kasih, membereskan mainan dan lain sebagainya. Untuk anak-anak yang sulit berbagi, berteman, bergantian dalam bermain, amatilah dengan seksama barangkali dia mengalami kesulitan berkomunikasi, teman-temannya tidak dapat memahami kata-katanya sehingga dia lebih sering merebut daripada meminta ijin.Bisa juga karena anak tersebut biasa dimanja, dituruti semua permintaannya karena sebagai anak pertama, cucu pertama, hal ini perlu dikomunikasikan dengan orangtuanya, sehingga di rumah orang tua dapat memberi penjelasan.

Bermain
Bermain

Bersosialisasi bagi anak mutlak diperlukan, coba perhatikan bagaimana anak-anak bermain dengan teman-temannya. Ada-ada saja idenya,apapun dapat dijadikan alat bermain, kolong meja, balik pintu, parit, sawah, tempat-tempat yang sulit, benda-benda seperti balok, daun, ranting, tanah, batu, kertas, alat-alat masak, mobil-mobilan alat rumah tangga dan apapun di mata anak-anak semua dapat menjadi mainan. Oleh karena itu fasilitator harus pasang telinga pasang mata untuk memcermati apa kecenderungan anak-anak. Sejauh tidak membahayakan biarkan mereka berekplorasi.

Melalui bermain bersama, anak-anak belajar berbicara ,menambah kosakata. Berkembang panca inderanya menangkap data, dikelak kemudian akan diolah sebagai pengetahuan yang mereka temukan.

Melalui bermain dan bersosialisasi anak-anak menemukan kebahagiaan, menemukan teman, menemukan kearifan, menemukan nilai-nilai kebersamaan dan menemukan ilmu pengetahuan. Dengan kesepakatan yang telah dibakukan di SALAM yakni : Menjaga diri sendiri, menjaga Teman dan menjaga Lingkungan, maka sekali lagi tugas pokok anak adalah BERMAIN dan BERMAIN baik secara individu maupun bersama teman-teman.