TENTANG ASAL-USUL COVID-19

Ada berita yang ditulis oleh id-Times tentang tinjauan asal-usul Covid-19 yang menurut kami cukup masuk akal untuk menjadi pemahaman kita bersama. Maka kami tertarik untuk mengunggahnya di kanal ini. Trimakasih. Red.

Tinjauan Terbaru Tentang Asal Usul Covid-19, Begini Kesimpulan Ilmuwan

Jakarta, Id-Times – Sekelompok ilmuwan di mana di dalamnya terdapat ahli virologi terkemuka dunia dan peraih Nobel, menyebutkan bahwa tak ada bukti kalau virus SARS-CoV-2, virus pemicu Covid-19, adalah virus yang lepas dari laboratorium.

Kesimpulan itu diambil berdasarkan tinjauan kritis terhadap bukti ilmiah yang didapat hingga sejauh ini.

“Analisis kami yang dilakukan secara cermat dan kritis terhadap data yang tersedia saat ini tidak memberikan bukti bahwa SARS-CoV-2 berasal dari laboratorium,” kata ahli virologi Edward Holmes seperti dikutip dari Science Alert, Sabtu (10/7/2021).

Holmes adalah pakar yang sebelumnya meneliti virus penyebab wabah Ebola dan influenza.

Meski tidak mengenyampingkan kemungkinan adanya pelanggaran oleh laboratorium, namun kelompok ilmuwan tersebut merangkum bukti asal usul alami SARS-CoV-2, dan berpendapat bahwa aktivitas manusia, seperti penggundulan hutan dan perdagangan satwa liar sebenarnya telah berulang kali menempatkan manusia pada jalur tabrakan dengan virus baru, buka hanya baru kali ini.

Mereka bahkan memperingatkan bahwa fokus pada laboratorium sebagai asal SAR-CoV-2, hendaknya tidak mengalihkan perhatian dari tugas-tugas ilmiah yang lebih mendesak, seperti menyelidiki sumber hewani SARS-CoV-2, atau mempersiapkan diri dari kemungkinan adanya pandemi berikutnya.

“Preprint saat ini memberikan deskripsi yang jelas dan masuk akal tentang peristiwa virologi yang telah terjadi selama munculnya pandemi virus Covid-19 ini,” kata ahli virologi Jonathan Stoye dari Francis Crick Institute, yang tidak terlibat dalam tinjauan tersebut.

Bukti yang mendukung asal-usul SARS-CoV-2 dari hewan, ditemukan pada virus yang terkait erat dengan SARS-CoV-2 yang terdeteksi pada kelelawar dan trenggiling, dan melalui orang-orang yang berinteraksi dengan hewan-hewan itu.

Tinjauan tersebut, yang tersedia dalam bentuk pracetak dan digunakan sebagai bahan peer-review, juga mengutip bukti lain yang tidak konsisten dengan teori kebocoran laboratorium, yakni bahwa SARS-CoV-2 tidak dapat menginfeksi tikus laboratorium, model hewan pilihan yang digunakan untuk eksperimen infeksi virus.

Padahal, jika seseorang merekayasa virus secara artifisial di laboratorium, akan ada penanda genetik dari proses itu dalam urutan SARS-CoV-2, tapi hal itu tidak dapat ditemukan.

“(Tinjauan) ini memperkuat kesimpulan bahwa virus itu alami, diikuti oleh adaptasi yang sedang berlangsung pada manusia,” kata Stoye.

Di sisi lain, ada fakta bahwa beberapa kasus awal Covid-19 yang terdokumentasi, terkait dengan pasar basah di Kota Wuhan, China, yang sekarang ditutup, dan peneliti kesehatan masyarakat Dominic Dwyer, dokumentasi itu pada akhirnya lebih sebagai peristiwa yang memperkuat tinjauan daripada harus melakukan tinjuan dari nol.

“Jadi kita perlu mencari di tempat lain untuk asal virus  itu,” ujar ilmuwan yang menjadin bagian dari tim penyelidikan kasus Covid-19 yang bentuk WHO dan diterjunkan ke Wuhan.

Kelompok ilmuwan itu pun menegaskan, hingga sejauh ini masih belum ada bukti epidemiologis yang menghubungkan SARS-CoV-2, atau kemungkinan virus itu sebagai prekursor,  dengan Institut Virologi Wuhan, tempat para peneliti China mempelajari virus corona yang ditularkan melalui kelelawar.

“Sumber utama penyebaran SARS-CoV-2 adalah pekerja laboratorium yang terinfeksi, yang mungkin membawanya pulang setelah terinfeksi di laboratorium, namun kasus awal kasus ini tidak didokumentasikan dalam indeks mana pun” kata Stuart Turville, ahli virologi di Kirby Institute di Sydney, Australia. (man) []