Instalasi Interaktif menghadirkan kedekatan

Terdapat Batu berukuran cukup besar ketika anda memasuki ruang pameran CARAKA #2. Batu yang dikeliling oleh ulat yang menyala ketika menangkap suara, menjadi salah satu karya yang ditampilkan pada CARAKA #2 yang diadakan di Warung Kopi Dst, Kasihan, Bantul pada 9-23 Desember 2018.

Duvrat Angelo

“Awal sebuah pengetahuan adalah Suara” Jawab Duvrat Angelo, ketika ditanya tentang hal yang ingin ia dan teman-teman kecil sampaikan melalui karya ini. Karya yang ia sebut sebagai instalasi interaktif ini bisa menyalakan lampu yang ada pada tubuh ulat ketika sensor menangkap suara dari luar. Suara, menjadi pesan penting yang ingin karya ini sampaikan. Bahwa suara menjadi permulaan dari segala pengetahuan. Suara menjadi sumber dari pendengaran, tahapan pertama sebelum melihat dan melakukan.

Duvrat Angelo yang akrab dipanggil Angge tahun lalu juga berpartisipasi pada CARAKA, tahun lalu ia menampilkan “Blood Flower” yang bercerita tentang penjajahan ekonomi kepada bangsa Indonesia. Tahun ini Duvrat kembali menampilkan karya, karya ini tidak ia garap sendiri, tapi berkolaborasi bersama-sama dengan siswa-siswi SALAM. Raisa, Darrel (Kelas 5) dan Niel (Kelas 7) terlibat dalam pembuatan seni instalasi ini. Ajakan untuk membuat seni instalasi ini dipicu oleh Angge berdasarkan refleksinya terhadap karya yang statis, ia terus bereksperimen dengan seni yang mempunyai interaksi dengan manusia. “Kebetulan saya sedang mengalami kejenuhan -bukan dalam berkarya- tapi dengan karya yang statis. Saya kepengen karya yang ada interaksi dengan yang melihat.”

Suasana Pameran Kolaborasi CA.RA.KA

Ajakan ini kemudian direspon oleh Raisa, Darrel (Kelas 5) dan Niel (Kelas 7) dengan bersepakat untuk bekerja sama merampungkan karya ini bersama-sama. Ketika mereka bertiga ditanya tentang proses penciptaan karya ini, mereka kompak menjawab “kami senang”. Bahkan Raisa dengan antusias menambahi “Saya ingin membuat lagi!”. Angge sendiri tidak membebani anak-anak untuk mempunyai filosofi yang dalam atas karya seni ini, yang penting bagi Angge adalah anak-anak mulai tertarik dan antusias untuk bereksperimen dengan objek.

Pendapat ini tak lepas dari metode Angge dalam mendampingi anak. Angge mengakui, bahwa ini kali pertamanya dia berkolaborasi dengan anak-anak. Mendampingi anak-anak, menurutnya tidak sama dengan mendampingi orang dewasa. Ada hal baru yang Duvrat pelajari, salah satunya adalah perbedaan pendekatan “Namanya anak ternyata butuh kemerdekaan benar, kita nggak bisa direct seperti ini, nggak mau mereka. Mereka harus berinisiasi seperti ini..” ceritanya ketika ditanya proses kreatif karya ini. []