Blog

PERTEMUAN AWAL LENTERA

Mei 2025. Di tengah semaraknya kegiatan belajar yang berlangsung di SALAM (Sanggar Anak Alam), ada satu ruang yang tumbuh tenang. Namanya LENTERA—sebuah devisi belajar yang tidak dibentuk untuk mereka yang mengikuti arus reguler, LENTERA lahir bukan dari rencana besar, melainkan dari kepekaan. Kepekaan akan kenyataan bahwa tak semua anak bisa atau cocok mengikuti sistem reguler, bahkan dalam ruang belajar yang sefleksibel SALAM. Ada anak-anak yang tak terjangkau waktu, akses, atau kondisi. Ada keluarga yang membawa luka, keraguan, atau keterbatasan. Dan dari ruang-ruang “tidak bisa”, LENTERA mulai menyala.—Didedikasikan untuk mereka yang membutuhkan cara lain untuk belajar, LENTERA hadir sebagai pelita kecil—menyinari, bukan menyilaukan. Di sinilah proses belajar menjadi lebih cair, lebih personal, dan lebih manusiawi. Tidak tergesa oleh kalender akademik, tidak dibatasi oleh kurikulum baku. Di sini, pertemuan bisa terjadi di kebun, di beranda, atau di ruang hati yang selama ini tertutup karena takut tertinggal.

Para pendamping di LENTERA bukan guru dalam arti konvensional. Mereka adalah penjelajah bersama. Mereka hadir untuk menemani, bukan mengarahkan. Mereka mendengarkan, bukan menilai. Mereka percaya bahwa setiap anak membawa sinarnya sendiri—meskipun kadang sinar itu redup karena luka, trauma, atau sekadar tidak pernah diberi kesempatan untuk menyala. Mei adalah bulan kelahiran. Bagi LENTERA, bulan ini menjadi tonggak bahwa keberpihakan pada anak bukan hanya soal metode, tapi juga soal keberanian untuk merancang ruang belajar yang benar-benar ramah dan merangkul. LENTERA menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus seragam, dan bahwa “berbeda” bukan berarti “tidak bisa”.

Apa yang paling membedakan pokok pemikiran yang mendasari pendidikan di SALAM dengan lembaga lain yang sering disebut sebagai sekolah? Berbeda dengan child-centred learning, atau embel-embel sekolah ramah anak, atau juga project based learning, maupun pendidikan yang berbasis minat. Pak Toto membuka pertemuan orang tua justru dengan menceritakan tentang ketidakadilan yang biasa terjadi dalam mendidik anak. Bagaimana anak secara tidak adil dianggap belum pintar sehingga perlu diajari dan diatur oleh guru. Guru dan buku pelajaran menjadi pusat pengetahuan. Pengetahuan yang dipunyai anak-anak dianggap sepele dan banyak salahnya menurut buku mata pelajaran. Belum lagi hal-hal sosial seperti bagaimana perempuan secara tidak adil diberikan beban untuk mengasuh anak. Pak Toto pun memberikan tantangan: Apakah kita siap untuk mempercayai bahwa siapa saja, termasuk anak-anak, dapat menjadi sumber pengetahuan? Apakah kita siap untuk membuang model sekolah yang menyeragamkan anak-anak dan membuat sekolah yang menyesuaikan kebutuhan anak yang berbeda-beda? Apakah kita siap membangun ekosistem yang lebih adil untuk semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan, bukan hanya memimpikan dan mengharapkannya?

Pengetahuan yang Lebih Berharga

Prinsip paling utama yang ditekankan adalah tentang proses pendidikan dimana anak-anak mencari dan menemukan pengetahuannya sendiri. Artinya, kita mempercayai bahwa anak-anak dapat menjadi sumber pengetahuan bagi dirinya sendiri, tanpa perlu adanya ‘guru’ atau ‘narasumber’ yang mengajari mereka. Dari prinsip tersebut, peran fasilitator juga secara sederhana adalah membantu atau menemani anak dalam proses tersebut. Agar relevan dengan kehidupannya, apa yang kita bantu untuk mencari adalah hal-hal yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari, yaitu suatu peristiwa yang memang dialami sendiri. Misalnya, mencari ikan, bermain layangan, memasak nasi, mengurus sampah sendiri, dan peristiwa-peristiwa yang memang menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Bagaimana dengan hal-hal yang mereka ingin cari tahu yang inspirasi awalnya adalah video YouTube yang mereka tonton atau buku yang mereka baca? Bukannya boleh atau tidak boleh, karena belajar memang sejatinya bisa dilakukan dengan berbagai macam. Namun, jika mereka ingin mencari tahu hal-hal yang jauh dari mereka, bagaimana caranya proses pencarian sendiri ini dapat dilalui dengan lengkap, jika mereka hanya bisa melihat dan mendengar, namun tidak bisa menyentuh, mencium, dan meraba dengan tubuh, atau panca indera, mereka sendiri?

Oleh karena itu, ada tema yang lebih strategis untuk diolah melalui proses daur belajar. Salah satu contoh yang kami kupas bersama adalah seandainya ada yang ingin melakukan riset tentang negara lain. Pertanyaan pertama yang waktu itu dilontarkan adalah, “Memangnya kamu mau pergi ke Finlandia?” Bukannya perkara boleh atau tidak, namun tanpa pergi langsung kesana, akan banyak ‘data’ yang tidak bisa diambil langsung. Misalnya iklim dingin di sana tidak bisa dirasakan langsung tanpa benar-benar berada disana. Atmosfer sosial yang membentuk pola hidup khas mereka juga tidak dapat dirasakan langsung. Oleh karena itu, sulit untuk dapat ‘menemukan sendiri’ ketika data yang kita dapatkan adalah saringan dari panca indera orang lain, tanpa kita bisa melakukan verifikasi sendiri.

Tidak perlu jauh-jauh di luar negeri, terkadang ada juga tema-tema yang secara geografis lebih dekat, misalnya sama-sama di Indonesia, namun tidak terjangkau secara keseharian. Misalnya tentang gunung yang letaknya jauh dari perkotaan. Akhirnya hambatan logistik yang mungkin menjadi penghadang karena tidak mungkin setiap hari bisa mendatangi lokasi tersebut, hal yang berbeda apabila keluarga tersebut memang tinggal di dekat sana. Alhasil, kebanyakan informasi pasti datangnya dari sumber kedua, orang yang memang secara intensif ada di lokasi tersebut. Tetapi, dalam pendekatan pendidikan ini, yang lebih berharga adalah penemuan yang ditemukan oleh si anak melalui pengalaman panca inderawinya dibanding informasi pihak kedua yang diberikan oleh dosen atau guru besar dari universitas ternama sekalipun. Lebih berharga ketika anak-anak menemukan sendiri cara atau penggunaan alat yang tepat untuk memasukkan barang ke dalam bungkus demi membantu usaha orang tuanya.

Mengapa? Karena yang ingin dicapai di ujung sana adalah kedaulatan selera, atau yang saya maknai sebagai titik dimana kita percaya diri dengan diri sendiri dan panca indera kita, bukannya dengan mudah terpengaruh oleh iklan dan orang lain. Bukannya menjadi follower, sehebat apapun orang yang di-follow tersebut. Mampu untuk memilih sendiri, mempunyai dasar argumentasi, dan juga mempertanggungjawabkan pilihannya. Kalau cuman urusan transfer ilmu, rasanya sekolah dan guru sudah tidak relevan lagi di iklim saat ini dimana Google dan AI sudah menjadi bagian dari keseharian kita.

Orientasi

Apakah kita boleh membiarkan anak-anak untuk mencari apapun yang ia ingin ketahui? Apakah tidak boleh bagi orang tua atau orang dewasa untuk mempunyai keinginan dan mempengaruhi anak? Naif bila kita menjawab bahwa kita tidak ingin mempengaruhi anak dan mau membiarkannya tetap ‘pure’. Namanya kehidupan, kita pasti saling mempengaruhi satu sama lain. Semua orang tentu punya kemauan yang tidak netral. Yang perlu diperhatikan, apakah kita akan menggunakan cara-cara yang memaksa demi hasil yang instan, atau mau mencoba membangun kesepakatan yang tentu akan memakan waktu yang sangat panjang? Itulah pentingnya mengobrol, bukannya menggurui. Pentingnya kemauan untuk bertanya dan mendengar, bukannya menyuruh dan mengharuskan. Namun, orang dewasa perlu mempunyai orientasi, kemauan yang menjadi acuan, bukan paksaan.

Dalam proses anak semakin mengenal dunia yang dia tinggali, ia tentu perlu memahami dua aspek penting dalam kebudayaan manusia yang mungkin tidak langsung bisa diproses oleh panca indera, yaitu hitungan dan bahasa. Kedua hal tersebut penting sebagai bagian dari ‘literasi’, atau cara anak-anak membaca dan memahami dunia yang mereka tinggali, lalu berinteraksi dengannya. Bagaimana cara kita mengajak anak-anak untuk mempelajari hal tersebut, namun bukan dengan metode babibubebo, namun dari peristiwa keseharian yang diproses?

Contoh yang kami kupas kemarin, misalnya dari peristiwa memancing. Tanpa adanya orientasi dari pendamping, mungkin memancing hanya jadi urusan soal berhasil menangkap ikan atau tidak. Namun, bagi pendamping yang mempunyai orientasi untuk mengenalkan soal waktu kepada anak-anak, peristiwa ini bisa saja diproses dengan rinci hanya dengan senjata berupa pertanyaan sederhana. Misalnya dengan bertanya, “Lama ya tadi perjalanan dari rumah ke tempat mancing?” Dari situ, mungkin diskusi tentang lama dan sebentar mungkin terjadi yang memungkinkan kita juga mengenalkan alat ukur seperti jam. Contoh lain, soal jarak, kita juga hanya perlu bertanya, “Jauh ya tadi dari rumah kesini.” Ukurannya bahkan bisa bermacam-macam, dari satuan baku seperti meter dan kilometer, atau seperti berapa banyak bensin yang dihabiskan bila melihat meteran di sepeda motor atau mobil. Belum lagi jika kita mengajak mancing untuk waktu yang lama hingga kelaparan. Artinya, kita bisa mulai membahas tentang bekal dan panganan. Untuk yang lebih rumit, seperti membahas tentang lingkungan, kita bisa bertanya tentang kondisi sungai tempat kita mancing. Apakah banyak hal-hal lain selain ikan yang terlihat di sekitar sungai? Bagaimana dengan tempat yang sering dijadikan tempat nongkrong, apakah banyak barang-barang? Atau bagaimana dengan warna air? Itulah peran orientasi.

Dari pertanyaan dan diskusi yang memang berhubungan dengan kehidupan nyata sehari-hari tersebut, maka hitungan dan bahasa yang akan dipelajari dalam proses ini sejatinya adalah sesuatu yang kontekstual dengan dunia mereka. Dibanding mengetahui nama latin awan yang bernama cumulonimbus, mereka akan lebih mempelajari bagaimana hubungan antara awan dan kemungkinan turunnya hujan, bahkan mungkin memahami penamaan lokal fenomena-fenomena cuaca tertentu. Yang dituju bukanlah hal yang ndakik, tetapi tentang bagaimana mereka makin memahami kehidupan mereka saat ini sehingga menambah bekal dan kemampuan mereka untuk berinteraksi, dan mungkin melakukan transformasi terhadapnya.

Akan tetapi, apakah sebebas itu? Paragraf pertamalah yang menjadi instrumen kontrol dari proses ini. Kita perlu terus menerus memikirkan tentang ketidakadilan. Untuk mengetahui orientasi kita terlalu jauh dan mungkin tidak relevan bagi anak-anak, tinggal kita lihat respon anak yang mungkin terkadang merasa bosan, jenuh, atau memberontak, suatu cara bagi anak menyampaikan ketidaknyamanannya dalam relasi yang tidak setara. Di sisi lain, kita juga perlu mengontrol anak-anak karena mereka juga mempunyai potensi untuk melakukan hal yang tidak adil, misalnya kepada teman-teman lainnya atau makhluk lain seperti tumbuhan atau hewan yang tidak dapat berbicara. Kalimat jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan adalah arah politik kita, alternatif dari cara hidup manusia yang penuh dengan hasrat untuk menaklukan dan menguasai. Sederhananya, proses pencarian anak-anak perlu selalu dipertanyakan: bagaimana dampak yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan juga makhluk lain dan lingkungan?

Catatan

Tanpa adanya kurikulum yang diikuti oleh semua peserta didik dan bervariasinya kondisi hidup setiap keluarga, bagaimana cara kita melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan kita dan juga kompetensi anak-anak? Evaluasi terhadap anak dalam konteks pendidikan adalah tentang pengetahuan (tahu), keterampilan (mampu), dan sikap. Tanpa adanya ujian dan ulangan, satu-satunya cara untuk mendapatkan data tentang ketiga hal itu adalah dengan tulisan, atau laporan yang diutarakan oleh anak tentang peristiwa yang mereka alami dan bagaimana mereka hidup dalam peristiwa tersebut. Mungkin banyak yang melihatnya sebagai jurnal harian atau diary anak. Namun, perlu kita ingat bahwa yang berkepentingan untuk mengetahui hal tersebut adalah kita orang dewasa, bukannya anak-anak. Oleh karena itu, saya rasa tidak bisa teknisnya dilaksanakan dengan cara memaksakan secara sepihak anak-anak membuat jurnal harian. Orang dewasa perlu berperan untuk membantu proses ini, atau kalau mau lebih canggih, dengan membuatkan situasi dimana menuliskan proses dan pikiran anak sebagai sesuatu yang benar-benar menjadi kepentingan mereka sendiri.

Namun catatan tersebut adalah dokumen yang krusial. Karena tanpanya, bagaimana cara orang tua untuk melihat perkembangan anak dan berkomunikasi dengan orang dewasa lain, misalnya fasilitator? Namun lagi-lagi perlu diingat, bahwa catatan ini bukanlah catatan tentang judgment kita terhadap kekurangan anak dibandingkan dengan imajinasi kita. Catatan ini adalah usaha dari bagaimana kita berusaha mendengar dan memahami tentang apa yang sedang dicari oleh anak itu dan proses apa yang ia sudah lalui untuk menemukannya. Dari catatan itulah kita bisa mengevaluasi, bukannya mengevaluasi anak, namun seperti yang disebutkan di awal, sudahkah kita berusaha untuk membuat sekolah yang menyesuaikan dengan kebutuhan anak? Apa strategi yang perlu kita persiapkan? Sarana dan prasarana apa yang perlu kita hadirkan demi mempermudah anak untuk mencari dan menemukan apa yang sedang ia cari? Apakah kebutuhan tersebut dapat dihadirkan oleh anggota komunitas kita sendiri?

Ya, sungguh proses pendidikan yang sangat ribet. Sangat memakan waktu, tenaga dan biaya. Namun disinilah prinsip kita akan diuji: “Seberapa siapkah kita benar-benar berpihak kepada anak?” []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *