Memahami Pendidikan Alternatif Dari Sanggar Anak Alam (SALAM)

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Apa sesungguhnya yang disebut sekolah alternatif itu?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi kelima, alternatif berarti pilihan di antara dua atau beberapa kemungkinan. Ini begitu jelas dan gamblang. Untuk konteks sekolah alternatif, saya kira adalah alternatif lain di luar pilihan-pilihan yang ditawarkan sistem pendidikan formal, sistem pendidikan arus utama di negeri ini.

Dalam buku berjudul ‘Sekolah Biasa Saja’, pada halaman 88 hingga 92, Toto Rahardjo (selanjutnya saya tulis Pak Toto) menulis tentang ciri-ciri sekolah alternatif. Menurutnya setidaknya ada empat karakter yang membedakan sekolah alternatif dengan sekolah arus utama.

Yang pertama adalah filosofi yang mendasari praktik pedagogisnya. Umumnya sekolah alternatif menjalankan proses pendidikan dari sudut pandang yang lebih humanistik. Pendidikan bagi para pelaku pendidikan alternatif bukan sekadar proses menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja agar mereka memperoleh pekerjaan yang bergelimang harta. Sebaliknya, pendidikan digunakan sebagai alat untuk membangun manusia seutuhnya. Ini sebagai bentuk perlawanan terhadap sekolah arus utama yang menyembah pada pencapaian akademik melulu.

Kedua, berorientasi pada anak. Sekolah semacam ini berusaha membangun proses pendidikan yang menghargai peserta belajar sebagai individu yang sedang tumbuh dalam lingkup alaminya. Minat dan bakat yang beragam diakomodasi di sini. Penyeragaman adalah haram sehingga mutlak harus dihindari dalam proses pendidikan yang dilangsungkan.

Ketiga, proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang holistik. Proses penyampaian materi tidak seperti proses yang diterapkan di sekolah konvensional. Guru-guru menyajikan materi secara tematik yang disesuaikan dengan konteks peristiwa yang ada di lingkungan sekitar, dan tetap mengakomodasi minat dan bakat peserta didik.

Dan yang terakhir, terbangunnya jaringan hubungan yang demokratis antara guru, murid, orangtua dan lingkungan di sekitar sekolah berada.  Guru tidak berlaku sebagai ‘Sang Segala Tahu’ yang memaksa memindahkan isi kepalanya ke wadah-wadah kosong bernama murid. Tugas utama mereka adalah merawat hasrat ingin tahu para pembelajar belia dengan cara yang memampukan mereka mengalami sendiri proses penemuan pengetahuan. Tentu saja relasi semacam ini menuntut pembagian peran yang lebih egaliter. Untuk membuat kerja-kerja eksperimental seperti ini bisa berjalan, tak syak lagi peran orangtua menjadi maha penting.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah sekolah-sekolah yang mengklaim sebagai sekolah alternatif yang keberadaannya kini bak jamur di musim penghujan sudah benar-benar memahami empat karakter sekolah alternatif ini?

Dalam sebuah diskusi santai antara Pak Toto dengan saya di kediamannya tak jauh dari bangunan sekolah SALAM, saya dan Pak Toto sepakat dengan adanya fakta tak menyenangkan terkait kondisi kebanyakan sekolah alternatif kini. Sekolah alternatif kini lebih menyasar kepada metodologi dengan mengabaikan aspek filosofis sebagai bagian terpenting yang semestinya diperhatikan. Alternatif dipandang sebatas cara yang berbeda dalam penyampaian materi. Akan tetapi filosofi pendidikan yang sudah diejawantahkan sebagai komoditas oleh sistem pendidikan arus utama masih tetap menjadi landasan mereka.

Mayoritas mereka yang mengklaim menjalankan pendidikan alternatif kini tetap berorientasi menyiapkan peserta didik siap memasuki dunia kerja. Yang diubah sekadar metode penyampaian materi semata. Lebih dari itu, banyak mereka yang mengklaim mempraktikkan sekolah alternatif kini, dengan pelabelan alternatifnya itu semakin mengkomodifikasi sekolah mereka dengan jualan yang mahal untuk bisa sekolah di sana. Tidak sedikit sekolah-sekolah yang alternatif itu malah berbiaya mahal, bahkan sangat mahal.

Pada bab awal buku ‘Sekolah Biasa Saja’, Pak Toto menjabarkan latar belakang sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini, mulai dari zaman kolonial hingga pasca reformasi kini. Kecuali pada sistem pendidikan yang diterapkan pasca kemerdekaan hingga sebelum tahun 1965, sistem pendidikan diciptakan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar pemilik modal.

Sejak awal sekolah selalu menciptakan habitat belajar yang penuh persaingan dan kompetisi dengan capaian-capaian akademik menjadi faktor utama. Pada halaman 23 Pak Toto menulis, “Dunia pendidikan kita masih mengajarkan ilusi kemenangan. Akibatnya anak-anak kita terjebak dalam ilusi dan lupa melihat apa yang ada di baliknya. Dunia kita mengajarkan ilusi menang-kalah. Padahal justru kita perlu banyak menumbuhkan semangat kerjasama, daripada saling berlomba atau berkompetisi untuk kemenangan semu yang tak bermakna.”

Ya, alih-alih membangun habitat sekolah yang nyaman, penuh suasana kerjasama, berproses bersama untuk kemudian menikmati semua itu dengan gembira, dunia sekolah kita begitu patuh pada aspek kompetisi antar individu, menciptakan habitat untuk saling mengalahkan sedari dini. Sebuah kompetisi, mau tak mau mensyaratkan adanya pihak pemenang dan sekaligus pihak yang kalah. Selalu ada objek korban dalam sistem kompetisi yang dibangun. Celakanya lagi, sistem semacam ini yang dibangun di sekolah, menciptakan banyak korban di pihak yang kalah, para pecundang dan penyakitan belaka dibanding para pemenang-pemenang kompetisi.

Dunia pendidikan arus utama di negeri ini dewasa ini, selalu bermuara pada satu hal semata, satu hal yang begitu mencolok, sebuah prestasi di bidang akademik. Untuk mencapai tujuan itu, sebuah prestasi yang membanggakan murid-murid, harus ada pihak lain yang dikalahkan. Apakah bisa berprestasi tapi tidak mengorbankan pihak lain. lebih dari itu, mencapai prestasi bersama-sama, diusahakan bersama-sama, dan dinikmati bersama dalam sebuah habitat bernama sekolah?

Pada sub-bab berjudul ‘Prestasi Kok Mengalahkan Orang Lain!’, dijabarkan bahwa semua itu bisa dicapai, bahwa berprestasi tanpa harus mengorbankan orang lain sebagai pihak yang dikalahkan bisa didapat. Setiap anak memiliki karakter, bakat dan minatnya masing-masing. Dengan mengakomodasi semua itu sembari menikmati proses pembelajaran bersama, prestasi tiap anak bisa diraih tanpa mengorbankan orang lain. Lebih lagi, proses yang ditekankan dalam metode pembelajaran yang diterapkan di SALAM, adalah sebuah prestasi lain yang patut dirayakan. Ini artinya, jika berpedoman pada prestasi sebagai pencapaian, semua peserta didik memiliki prestasi masing-masing tanpa harus mengorbankan orang lain sebagai pihak yang kalah.

Setelah mengajak para pembaca memikirkan ulang filosofi pendidikan negeri ini, membongkar ragam bentuk kebobrokan sistem pendidikan arus utama di negeri ini hingga saat ini, di bab-bab selanjutnya Pak Toto menjabarkan seperti apa sesungguhnya Sanggar Anaka Alam (SALAM) itu. Mulai dari filosofi pendidikan yang dianut hingga praktik teknis proses pembelajaran yang melibatkan murid, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar secara aktif. Filosofi belajar yang humanistik berbasis riset yang dirancang bersama dengan selalu menyesuaikan dengan peristiwa, permasalahan, dan kebutuhan hidup di lingkungan sekitar tanpa mengabaikan minat dan bakat peserta didik dijabarkan di sana.

Sejak SMP, saya begitu mencintai pelajaran fisika. Ketika belajar fisika di SMP lalu lanjut di SMA, melulu tuntutan menghapal dan menghapal yang dicekokkan kepada saya. Alhasil, saya begitu kecewa. Sedikit sekali praktik yang terkait langsung dengan kondisi keseharian yang terkait peristiwa fisika. Jika ada praktik, ini dilakukan sekadar memenuhi syarat wajib dari kurikulum yang sudah disusun pemerintah. Membosankan. Semua serba membosankan.

Namun lain halnya dengan apa yang diterapkan di SALAM. Praktik langsung dengan bahan riset lingkungan sekitar betul-betul diterapkan sejak dini. Pada halaman 221, sub-bab berjudul ‘Belajar Fisika Bersama Pak Puji’, Raisa Kanaya, Siswi SMA Eksperimental SALAM, menarasikan dengan begitu baik proses belajar fisika yang Ia lakukan dengan mendatangi langsung Pak Puji yang memiliki reaktor pengolahan sampah. Raisa tertarik mempelajari ini karena melihat fakta banyaknya sampah di lingkungan sekitar. Selain belajar fisika dari riset dan praktik langsung, untuk anak seusia Raisa, Ia begitu apik menarasikan hasil riset belajar fisikanya. Sulit membayangkan ini bisa terjadi di sekolah formal. Belajar langsung dari riset sembari mampu menuliskan narasi dengan begitu baik, saya kira adalah utopia di dunia pendidikan formal negeri ini kini.

Menutup tulisan ini, saya akan mengutip komentar kakak, atasan, sekaligus kolega saya di SOKOLA Institute mengenai buku ‘Sekolah Biasa Saja’ ini. Kak Butet bilang, “Visi Sokola Rimba sama dengan SALAM, yakni berusaha mewujudkan murid-murid untuk dapat menahkodai kehidupannya sendiri. Visi seperti ini yang tidak mendapat ruang dalam sistem sekolah formal, dipikir-pikir kok kejam, ya? Saya bahkan menuding sekolah formal sebagai perusak terbesar pengetahuan lokal dan kemandirian masyarakat adat dan masyarakat di perdesaan. Buku ini diperlukan oleh siapa saja yang pernah sekolah, agar bisa mengoreksi daya nalar, karena sejatinya proses sekolah pada setiap manusia berlangsung sepanjang hidup, tinggal bagaimana proses belajar tersebut bisa bermakna positif bagi kehidupan kita dan sekitar kita, bukan menjadi budak yang memenuhi industri semata.”

Ya, buku ini berjudul ‘Sekolah Biasa Saja’ yang menggambarkan bagaimana penulisnya memandang pendidikan dan mengejawantahkannya dalam sebuah laboratorium bernama Sanggar Anak Alam (SALAM). Akan tetapi, saya kira dalam kondisi pendidikan arus utama yang ada di negeri ini, SALAM menjadi sekolah alternatif yang bukan biasa saja. Ia menjelma luar biasa.

Judul Buku:                             Sekolah Biasa Saja

Penulis:                                   Toto Rahardjo

Penerbit:                                  Insist Press, Cetakan ke-2, Agustus 2018

ISBN:                                      978-602-0857-56-5

Dimensi dan Halaman:            14 x 21 cm, xxvii + 252 halaman