Blog

Sebuah Notulen tentang Sarasehan Keluarga SALAM di Bulan Juli 2025

“Aduh, kami deg-degan banget tau, Bu.” kata Rere dalam pesannya di WhatsApp beberapa menit setelah ia mengirim undangan sarasehan ke Hanie Maria, sekretaris ForSalam.

Tak lama, undangan itu tampil di grup Salam Semangat. Beberapa orang tua memberi kesan, terharu dengan undangan sarasehan yang digagas oleh Rere dan teman-teman.

Judul sarasehannya, “Apa Kabar, Bu, Pak?” Sederhana, tapi, kalau dipikir-pikir dengan POV orang tua akan muncul aneka rasa di sana. Semakin judul dibaca, semakin dalam pula lapisan maknanya.

Malam minggu yang bisa saja dipakai oleh Rere, Ruel, Happy, Tantra, juga Rachel dan kawan-kawan lain untuk dolan malah dipakai untuk membuat sebuah sarasehan modern untuk menyapa orang tua. Tentu bukan hanya orang tua biologis mereka saja yang disapa, tapi semua orang tua di Salam, khususnya yang bisa hadir di Sabtu, 19 Juli 2025.

Sarasehan dibuka dengan lagu dari BCL, ost film. Jumbo yang saat ulang tahun SALAM dinyanyikan beberapa kali oleh teman-teman SD. Usai lagu, Rachel membuka dengan sebuah narasi pemantik seperti ini:

“Aduh, kami deg-degan banget tau, Bu.” kata Rere dalam pesannya di WhatsApp beberapa menit setelah ia mengirim undangan sarasehan ke Hanie Maria, sekretaris ForSalam.

Tak lama, undangan itu tampil di grup Salam Semangat. Beberapa orang tua memberi kesan, terharu dengan undangan sarasehan yang digagas oleh Rere dan teman-teman.

Judul sarasehannya, “Apa Kabar, Bu, Pak?” Sederhana, tapi, kalau dipikir-pikir dengan POV orang tua akan muncul aneka rasa di sana. Semakin judul dibaca, semakin dalam pula lapisan maknanya.

Malam minggu yang bisa saja dipakai oleh Rere, Ruel, Happy, Tantra, juga Rachel dan kawan-kawan lain untuk dolan malah dipakai untuk membuat sebuah sarasehan modern untuk menyapa orang tua. Tentu bukan hanya orang tua biologis mereka saja yang disapa, tapi semua orang tua di Salam, khususnya yang bisa hadir di Sabtu, 19 Juli 2025.

Sarasehan dibuka dengan lagu dari BCL, ost film. Jumbo yang saat ulang tahun SALAM dinyanyikan beberapa kali oleh teman-teman SD. Usai lagu, Rachel membuka dengan sebuah narasi pemantik seperti ini:

Sengaja saya minta dari Rere dibuat gambar begini, agar semua yang membaca tulisan ini bisa baca ulang pemantik yang indah dan lembut ini.

Lalu Rere yang menjadi moderator membuka acara dengan memperkenalkan tim malam itu. Ada Tantra yang menyiapkan  Zoom, Rachel sebagai notulen dari anak, Rere menjadi moderator juga narasumber anak ditemani Happy dan Ruel. Sementara dari sisi orang tua ada saya sebagai pencatat, Pak Gemak dan Syera sebagai narasumber.

Rere bercerita bagaimana keresahan anak-anak lah yang membuat sarasehan ini terjadi sebagai respon atas Srawung Orang Salam (SOS). Obrolannya bersama Bilal, Tantra, dan beberapa kawan lain saat mereka mendengar hasil super ringkas SOS dibacakan pada Kongres Orang Salam di ultah ke- 25 SALAM. Tantra dan kawan-kawan merasa was-was, jangan-jangan yang dibacakan malam itu hanya akan berakhir menjadi wacana saja, ngambang.

Lalu Rere menutup pembukaan dengan mempersilakan Syera dan Pak Gemak untuk bercerita tahu dari mana SALAM dan seperti apa tantangan saat akhirnya sudah bergabung dengan SALAM, apakah pernah punya ekspektasi tinggi, dan bagaimana menyikapinya. Rere juga bertanya, mengapa Pak Gemak akhirnya mau jadi narasumber, karena bagi Rere cukup sulit menemukan narasumber yang bisa mewakili orang tua dari anak SMP dan SMA.

Baik Syera maupun Pak Gemak bercerita bahwa mereka punya tantangan sekaligus pandangan positif terkait kenyataan setelah mereka bergabung dengan SALAM. Ya, saya pikir kata “kenyataan” adalah istilah yang tepat. SALAM yang nyata ya yang di Nitiprayan, yang kita hidupi bersama, yang kita rawat bersama, bukan yang ada di Instagram dan media, bukan? Ah, abaikan isi kepala saya yang turut menerawang mendengar pertanyaan Rere.

Syera menyampaikan bahwa ternyata berusaha aktif tidak selalu mendapat respon positif. Ada kalanya orang lain merasa upaya Syera untuk aktif adalah bentuk arogansi. Baginya yang termasuk orang tua dari Generasi Z, salah satu tantangan terberat di SALAM adalah soal berkomunikasi lintas generasi.

Menurut Syera, di SALAM anak-anak dan orang tua sama-sama pasti mengalami kegiatan belajar. Baik anak dan orang tua pasti kesehariannya diwarnai dinamika. Anak dan orang tua sama-sama berada di SALAM untuk belajar. Perbedaannya hanya di casingnya saja.

Terkait dinamika pada orang tua, menurut Syera bisa timbul karena gaya komunikasi yang berbeda. Tak bisa dimungkiri bahwa komunikasi teks via grup bukanlah hal yang sesuai untuk beberapa pribadi. Untuk hal ini yang ia upayakan adalah menurunkan ekspektasi dan berusaha untuk lebih empatik dan asertif.

Sementara hal positif yang sangat menyenangkan buatnya adalah anak-anak yang pulang dan membawa segudang cerita. Saya senyum-senyum mendengar ini, yah, hampir semua orang tua SALAM pun merasakan hal menyenangkan ini, bukan?

Sementara Pak Gemak bercerita tentang tantangan-tantangan manis yang dihadapi, contohnya: anak-anak yang sulit diajak pulang. Pertama kali mengalami ini, ia merasa ini sungguh tantangan serius. Namun lama-lama, ya mau bagaimana lagi ketika anaknya memang secinta itu dengan sekolahnya. Mendengar ini saya juga teringat masa-masa ketika anak di tingkat PAUD, ya begitulah yang terjadi dan kadang bikin orang tua gregetan sendiri.

Pak Gemak juga cerita tentang manfaat kelompok kecil sebagai support system untuk orang tua jika kelompok tersebut fokus pada anak. Ia menuturkan bagaimana kisah dari orang tua lain membantunya menemukan kunci pengasuhan remaja. Bahwa anak sulungnya yang kala itu remaja, butuh dipercaya, butuh ruang yang lebih bebas untuk bertumbuh. Dan rupanya saran ini berhasil.

Pak Gemak menekankan bahwa ruang-ruang kecil, kelompok kecil yang tumbuh organik dan punya fokus pada anak adalah ruang aman yang bisa merekatkan para orang tua. Dan ini bagus serta efektif sekali. Karena yang awalnya dari kelompok kecil, kemudian meluas ke kelas, lalu semakin luas lagi ke komunitas SALAM itu sendiri. Jika kelas-kelas dikuatkan soal ini, maka menciptakan SALAM yang semakin solid dan hangat adalah sebuah keniscayaan.

Lalu, layar pindah dari jendela orang tua ke jendela anak. Pada sesi inilah saya merasa, inilah yang utama, core of the core dari acara ini. Suara anak-anak yang malam itu diwakili oleh Ruel, Happy, dan Rere. Selengkapnya Rachel sudah menulis di tautan ini: https://www.salamyogyakarta.com/refleksi-sarasehan-anak-salam/ apakah teman-teman sudah membaca refleksi mereka?

Ruel dan Happy bercerita bagaimana awalnya mereka bergabung di SALAM. Mereka bernostalgia. Kadang mereka senyum-senyum, kadang mereka terharu lalu suara mereka tercekat. Hari pertama masuk ke SALAM memang selalu menarik untuk dituturkan, ya? Saya yakin yang sedang mendengarkan juga terbawa ke memori masing-masing.

Hingga tiba saat Ruel bercerita bahwa SALAM lah yang membuatnya jadi punya hubungan yang hangat dengan mamanya. Ruel ingat bahwa dulu kerap dibantu oleh teman-teman mamanya saat ia butuh dibantu dalam risetnya. Mamanya pun terhubung dengannya meski saat sibuk, lewat hadirnya teman-teman mamanya yang selalu hangat pada Ruel.

Sementara Happy, berkali-kali ia menyebutkan sekian banyak nama fasilitator dan orang tua teman rasa orang tua kandung. Sangat terlihat rasa terima kasihnya yang mendalam karena ia mendapatkan kerinduannya di SALAM. Happy benar-benar happy ketika ia bisa merasakan bagaimana memiliki orang tua yang sangat hangat, sangat peduli, sangat menyayanginya apa adanya walau bukan dari orang tua kandungnya sendiri.

Rere pun beberapa kali tampak menghilang dari layar. Sepertinya ia butuh menarik napas berkali-kali karena merasai cerita teman, juga pengalamannya sendiri dari yang merasa kurang dipercaya dan kurang percaya diri kemudian berubah menjadi Rere yang hari ini. Sungguh, sebuah perjalanan yang pasti selalu anak-anak ini rayakan dalam ingatan.

Jelas mereka bersuara bahwa anak-anak selalu senang jika disapa, jika ditanya risetnya, jika disentuh hatinya. Anak-anak bisa merasakan bagaimana orang tua yang hadir dalam hidup mereka bisa membuat masa remaja mereka menjadi lebih indah. Saya rasa ini catatan penting untuk orang tua yang anaknya belum mencapai remaja. Jangan sampai kita-kita ini lupa, anak-anak di usia berapa pun, pasti menanti disapa, ditimang, disayang oleh orang tuanya.

Saya mencatat, dalam ceritanya mereka memiliki benang merah yang sama tentang bagaimana orang tua – orang tua di SALAM benar-benar menjalani frasa “anakmu anakku, anakku anakmu.” Bunda Rere, salah satu orang tua yang menurut saya punya “banyak anak” yang bukan anak kandungnya. Saya pun teringat bagaimana hangatnya sosok Bunda ini menyapa saya yang waktu itu baru saja bergabung di KB SALAM.

Apa yang anak-anak ungkapkan merupakan sebuah sapaan dan bagi saya menjadi panggilan untuk semakin mendak Dalam tari Jawa, mendak adalah gerakan sedikit menurunkan tinggi tubuh dengan menekuk lutut, saya rasa kata ini bisa dimaknai sebagai kesadaran untuk menurunkan ego.

Ketika berada dalam komunitas. Saya sepakat dengan pendapat Pak Gemak sejak awal, mari fokus di anak. Dan sebagai keluarga besar SALAM, siapa sih anak? Ya semua anak. Anakku anakmu, anakmu anakku. Jika serempak menjalani frase itu, setidaknya dengan berada di SALAM kita sudah turut menciptakan sebuah generasi yang bebas pengabaian. Bukankah ini sangat hangat dan menentramkan?

Rere sempat berkata bahwa acara ini adalah sarasehan paling sulit baginya. Karena mengungkapkan perasaan ke orang tua itu rasanya gengsi betul. Ia pun bertanya-tanya, apakah orang tua juga merasakan hal yang sama ke anak?

Sesi pertanyaan dibuka, ada Ignis yang bertanya soal harapan orang tua terhadap anaknya. Ini pertanyaan yang sepertinya jawabannya seragam jika di SALAM. Syera tertawa dan menjawab tidak ada harapan, seperti tebakan Pak Gemak. Suasana cair, tawa terdengar. Ya begitulah, tidak ada ekspektasi berlebihan ketika anak sudah jadi fokus utama bagi orang tua yang mengiringi perjalanan anaknya.

Hadir dan bicara juga Mbak Karunianingtyas atau Mbak Tyas yang memberi apresiasi pada anak-anak. Ia berkata, artinya anak-anak ini melakukan daur belajar secara utuh dalam setiap peristiwa. Artinya lagi, anak-anak ini pada akhirnya ya melakukan riset dan daur belajar secara nyata dalam kehidupan mereka.

Sesi Zoom masih berlanjut, muncul pertanyaan dari Rere tentang apa harapan Pak Gemak terhadap orang tua baru. Rupanya pertanyaan ini menimbulkan dinamika khas SALAM. Menarik. Setiap orang bebas berpendapat, bertanya, mempertanyakan, juga menjawab. Setiap orang boleh mengungkapkan persepsinya langsung. Percayalah, hal ini sulit didapat di tempat lain.

Diksi baru dan lama diharapkan oleh Pak Gemak lebur menjadi satu kata: baru. Toh setiap hari membuat kita semua menjadi orang yang baru. Beberapa peserta Zoom juga menuliskan pendapat di kolom komentar, pointnya serupa. Mengapa ada istilah baru dan lama, siapa yang mencetuskan, mengapa ada gap baru dan lama?

Saya pun nimbrung, padahal biasanya saya enggan buka mic saat pertemuan-pertemuan digital. Saya berpendapat bahwa istilah orang tua baru dan orang tua lama tidak menunjukkan gap, hanya sebuah istilah yang menjadi penamaan sesuai linimasa atau waktu seseorang tergabung dengan SALAM.

Saya pun bercerita POV saya menjadi orang tua baru di SALAM dengan latar belakang super introvert, tertutup, nggak pernah keluar rumah bahkan tetangga saya nggak tau bahwa sayalah yang anak kandung ibu dan bapak saya, bukan suami saya. Parah, memang. Dan setelah sekian lama (2016-2025), akhirnya saya bisa lebih bersosial dibanding di masa lalu.

Bicara masa lalu membuat saya keterusan bercerita kepada anak-anak yang hadir malam itu. Bagi saya, mendampingi, menyapa, menemani anak-anak dari berbagai jenjang di SALAM bisa menjadi sarana pulih bagi orang dewasa yang masa kecilnya nggak hangat-hangat amat.

Orang tua – orang tua yang mampu mendengar lebih banyak, menyapa lebih hangat, merangkul lebih erat, menemani lebih lama bisa jadi dulunya justru tidak mendapatkan itu dari orang tuanya. Maka mendampingi anak-anak, khususnya remaja, bisa jadi pengalaman yang menyembuhkan luka batin baik itu disadari maupun tidak oleh para orang tua SALAM.

Lalu saya ingat lagi bahasan terkait istilah ortu baru dan ortu lama. Saya pun berkata bahwa semoga munculnya dua istilah ini tidak lagi dipandang sebagai gap. Tapi ya biar begitu apa adanya saja makna dari kata-kata itu. Tanpa munculnya prasangka soal gap, soal mengapa itu digaungkan.

Saya sendiri merasa, gap yang disebutkan terbantah dengan sendirinya. Karena, kalau dipikir-pikir lagi, saya yang masuk lebih dulu di tahun 2016 ternyata ya nyambung kok, bahkan ke konser bareng dengan Mbak Riris, ibu dari Kea yang masuk SALAM tahun 2022. Mbak Riris saat ini sudah pindah di Kalimantan dan masih terhubung lewat medsos.

Begitu pun suami saya, Angga, dari angkatan 2016 juga bisa kok terhubung dengan Pak Yulex yang minimal sudah berada di SALAM sejak Banyu berada di tingkat dasar. Banyu sendiri, kini sudah SMA. Jadi istilah baru dan lama, saya rasa murni menunjukkan klasifikasi berdasarkan waktu saja. Artinya, sekat-sekat imajiner itu sesungguhnya ya memang imajiner.

Waktu habis, saya diberi peringatan untuk segera mencukupkan bicara.

Pak Toto memberi penutup, dengan memberi apresiasi untuk acara yang digagas oleh anak-anak sebagai sebuah acara yang baik untuk menyapa orang tua.

Lalu Pak Toto menutup dengan sebuah refleksi baik untuk anak maupun orang tua terkait dinamika yang muncul saat sarasehan. Perihal orang baru atau pun lama sebagai istilah, tidak apa-apa jika tidak dipaksakan untuk lebur menjadi satu istilah yang sama: semua baru. Namun perlu disadari bahwa, perihal SALAM, yang baru belum tentu tidak paham dan yang lama juga belum tentu sudah paham. Pak Toto menambahkan bahwa yang penting setiap orang jangan merasa menjadi yang paling tahu.

Ia berpesan agar warga SALAM jangan berpikir soal kesempurnaan. Karena yang sempurna hanyalah milik Tuhan. Tentang kesempurnaan ini, bisa saja menjadi bibit konflik antara orang tua dan anak. Kenapa? Karena bisa saja keduanya saling berharap kesempurnaan, padahal jika demikian tentu yang didapat adalah kekecewaan.

Di akhir pesannya, Pak Toto kembali menuturkan bahwa SALAM selalu  menyediakan tempat untuk semua orang, semua usia, semua latar belakang untuk belajar bersama-sama.

Rasanya seharusnya waktunya belum segera selesai. Saya yakin masih banyak cerita-cerita yang akan bergulir dari orang tua, anak, dan fasilitator yang hadir. Tapi acara itu pun berakhir. Ada yang lucu, rupanya anak-anak sudah membuat sertifikat digital untuk para peserta sarasehan. Hahaha. Meski mereka ini tahu betul dan sudah menghidupi bahwa manusia hidup bukan untuk mengejar sertifikat. Bisa aja, Rere dkk.

Pada akhirnya, SALAM ya seperti itu kalau diskusi. Jarang ada diskusi tanpa lontaran argumen. Mengapa bisa demikian? Karena memang di SALAM, kami dimerdekakan, kami dilembutkan, dan kami dipertemukan untuk saling terhubung dalam keinginan yang sama: demi anak-anak memperoleh haknya sebagai individu yang istimewa untuk belajar secara merdeka.

Sebelum sarasehan, beberapa dari warga SALAM datang ke acara di Mojok. Seseorang bertanya mengapa relasi ortu-ortu di SALAM menjadi sebuah tantangan?

Saya senyum-senyum mendengar Gernata Titi dengan lantang bilang, SALAM itu sekolah radikal. Sebagian besar orang tuanya keras kepala setidaknya beberapa sangat idealis untuk menolak pendidikan formal. Jadi bisa dibayangkan bagaimana saat kami harus melebur dalam komunitas, demi anak-anak? Betul, kami melakukan kompromi atas keras kepalanya kami demi komunitas, jadi ya solid ya tetap juga merdeka dan idealis.

Akhir kata, I love u, ibu, bapak, mbak, mas, dek, nduk, le, bro, sist saudara seSALAM. Sampai berjumpa di galengan menuju SALAM, ya, tempat kita berpapasan dan saling tersenyum. Semoga tulisan yang sepertinya agak kepanjangan ini berguna untukmu dan untukku sendiri.

Bantul, 20 Juli 2025

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *