Makna belajar sejak lama terasa rancu. Dulu ia dipahami sebagai membaca buku dan mendengarkan guru; kini pun masih direduksi menjadi jam membaca atau mengerjakan PR. Pencarian makna lain membawa saya ke SALAM Yogyakarta, tempat istilah seperti riset dan daur belajar diperkenalkan. Namun seiring Kurikulum Merdeka, muncul istilah proyek yang sering disamakan dengan riset: terdengar lebih aktif dan menarik, tetapi tetap melahirkan pola lama—menunda pekerjaan, SKS, orientasi produk, bahkan orang tua yang mengambil alih tugas anak.
Hobi pun diangkat sebagai ruang belajar utama. Anak difasilitasi les dan peralatan dengan harapan keterampilan itu kelak menjadi sumber hidup. Namun pertanyaan mendasarnya luput: apakah pendidikan semata menyiapkan anak agar kompetitif dan cepat mendapat “kursi”, ataukah memberi ruang bagi pendidikan kritis—yang tidak sekadar mengikuti dunia, tetapi berusaha mengubahnya?
Karena itu, perlu batas tegas antara belajar, proyek, dan riset. Belajar berfokus pada transfer pengetahuan dari ahli, buku, dan media; proyek pada pengerjaan terencana dan produk; sedangkan riset pada interaksi langsung dengan dunia, pengamatan, pencatatan, dan perumusan makna. Menemukan informasi di YouTube tetaplah belajar jika hanya menyerap isi, bukan memahami proses penciptaan pengetahuan. Membuat nasi goreng dari resep adalah proyek, tetapi belum tentu melahirkan pemahaman—terlebih di era mesin dan AI.
Riset menawarkan pendidikan yang lebih tahan waktu. Anak diajak mengumpulkan data dari pengalaman inderawi: melihat, meraba, mencium, merasakan, lalu merangkainya menjadi pengetahuan yang mereka maknai sendiri. Buku, statistik, dan teknologi—termasuk AI—bukan pengganti pengalaman, melainkan teman dialog. Mesin tak memiliki indera dan kepekaan manusia; makna lahir dari pengalaman hidup yang hanya manusia mampu rasakan dan bela.
Dari riset, hubungan kita dengan dunia berubah. Mengamati ayam setiap hari, misalnya, dapat menggeser pandangan dari komoditas menjadi makhluk hidup. Proses ini membuka kesadaran etis dan solidaritas—bahkan bagi orang dewasa—untuk meninjau ulang cara hidup yang selama ini dianggap normal.
Perbedaan antara proyek, belajar, dan riset terletak pada sumber pengetahuan, cara kerja, peran pendamping, serta hasil yang dihasilkan.
Proyek bertumpu pada pekerjaan yang sudah direncanakan sejak awal. Sumber belajarnya bukan terutama pengetahuan, melainkan tugas itu sendiri. Keterampilan yang dibutuhkan sangat bergantung pada jenis proyek yang dikerjakan: bisa teknis, bisa artistik, bisa administratif. Dalam konteks ini, pendamping berperan sebagai pengelola—membantu menyusun rencana, mengatur waktu, dan memastikan proyek berjalan hingga selesai. Ukurannya jelas dan kasat mata: sebuah produk. Ketika produk itu jadi, proyek dianggap tuntas.
Belajar berangkat dari sumber-sumber pengetahuan yang telah mapan: ahli, buku, atau video. Fokus utamanya adalah menyerap apa yang sudah diketahui orang lain. Keterampilan yang dilatih adalah menghafal, memahami, dan mengulang informasi. Pendamping—guru atau fasilitator—berperan memilih dan menyampaikan materi dengan cara yang dianggap paling mudah dipahami. Hasil akhirnya bukan benda, melainkan penguasaan pengetahuan yang biasanya ditandai dengan sertifikat, nilai, atau bukti kompetensi; sering kali juga berupa kumpulan fakta dan trivia.
Sementara itu, riset berangkat dari interaksi langsung dengan dunia sekitar. Alam, manusia, dan peristiwa sehari-hari menjadi sumber utama. Keterampilan kuncinya adalah mengamati, mencatat, dan memperhatikan detail yang sering luput. Pendamping tidak mengarahkan pada jawaban, melainkan menjadi teman diskusi: membantu menentukan apa yang perlu diamati, bagaimana cara mengambil data, dan bagaimana memaknainya. Output riset bukan produk jadi atau sertifikat, melainkan kumpulan data dan laporan pengamatan—bahan mentah bagi lahirnya pengetahuan yang dirumuskan sendiri. Dengan demikian, proyek menekankan penyelesaian, belajar menekankan penyerapan, sementara riset menekankan pemaknaan pengalaman.
Memang tak ada formula pendidikan kritis yang bisa disalin. Ia menuntut percobaan terus-menerus. Awal 2026, saya kembali mengajak anak-anak melakukan riset. Dari pengamatan sederhana terhadap kehidupan orang lain, seorang anak menyimpulkan dengan jujur dan empatik—sebuah opini awal yang menandai proses berpikir, keberanian berteori, dan tumbuhnya solidaritas secara organik. Saat itu saya yakin: jalan ini tepat—jalan yang mengajak anak-anak membuat jalannya sendiri. []
Relawan SALAM
Leave a Reply